24 C
Yogyakarta
Senin, 15 April 2024
BerandaCerpenSemesta di Wajah Eyang

Semesta di Wajah Eyang

Gema takbir membawaku kembali ke tempat ini setelah suara rindu terus memanggilku dalam radius ratusan kilometer. Tempat Eyang Putri, Eyang Kakung, dan Ibu tertidur dalam sunyi yang abadi. Aku masih ingat cerita Eyang tentang orang-orang pilihan Tuhan yang hidup tanpa ibu. Muhammad dibesarkan tanpa ibu. Al Masih putra Maryam dibesarkan dengan gunjingan pedih nan perih juga pada ibunya. Kepedihan membuat imanmu makin kuat. Begitu pesan Eyang yang selalu kuingat.

“Bacalah. Begitulah arti titah utama saat seorang laki-laki pilihan Tuhan menerima kalam yang pertama. Bukan tanpa alasan. Tuhan menyuruh kita selalu membaca semua pertanda yang terjadi di alam semesta ini. Agar nuranimu terlatih.”

Aku menunduk. Menengadahkan telapak tangan. Melihat gundukan itu belum begitu kering. Ini pertama kalinya hari raya tanpa Eyang. Sesuatu membayang di pelupuk mata. Wajah perempuan itu, laki-laki itu. Juga wajah Eyang. Wajah yang di dalamnya berisi jutaan pertanyaan, juga ribuan jawaban. Mirip jagat raya ini.

“Ini kuburan siapa Ayah?”


Selain nama Eyang dan Ibu, ada nama ketiga yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Kau bisa menuliskannya sesuka hatimu. Beberapa orang percaya, beberapa orang lagi curiga, dan beberapa orang lagi tak peduli kau siapa. Karena bagiku, sejarah hanyalah sebuah karangan.

Dalam hidupku hanya ada Eyang. Sudah lama aku tak berjumpa dengan ibuku. Sejak Eyang Putri wafat, aku hanya bersama Eyang Kakung dan selalu menemaninya merawat tambak-tambak miliknya. Sepulang sekolah saat matahari terjatuh dari ayunan langit dan teriknya terasa hangat kuku, aku kadang menabur kapur dan memberi makan udang-udang miliknya. Aku tahu udang makan plankton, tapi kata Eyang hewan juga butuh vitamin, sama seperti manusia, mereka juga butuh tambahan makanan.

Jika waktu mendekati magrib, Eyang menyuruhku berhenti. Duduk berdua di saung bambu yang atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa. Selanjutnya aku akan menghabiskan singkong rebus dan teh hangat yang dibuat Eyang khusus untukku. Kami biasa bercanda bersama sampai angin laut mengantarku pulang ke rumah yang hanya berjarak delapan ratus meter dari tambak. Tak lupa Eyang selalu mengingatkanku berangkat mengaji di langgar sebelah musala. Ia tahu semua ilmu penting, tapi agama adalah segalanya.

“Ibumu akan pulang nanti saat lebaran haji. Tepat saat tahun ajaran baru dimulai. Ia ingin sekali ikut mengantarmu ke sekolah kejuruan yang kau idamkan dari dulu. Mudah-mudahan ia akan lama di sini. Ia sangat rindu. Ia pasti kaget melihat anaknya sudah sebesar ini. Dulu saat ditinggal kau masih setinggi itu,” menunjuk pohon jagung yang masih kecil di depan lalu memijit-mijit pundakku.

“Mudah-mudahan lelahnya di Jakarta membuahkan hasil agar kau bisa terus melanjutkan sekolah.”

“Ibu seperti apa Eyang?”

“Nanti kau akan tahu menjelang lebaran saat ia pulang meminta maaf padamu. Ia telah meninggalkanmu sejak kecil. Tunggulah, ada saat yang tepat hingga kau tahu segalanya. Sekarang belajarlah. Bacalah semua yang ada di semesta ini kalau hidup tak hanya soal pertanyaan. Kau akan paham bagaimana rumitnya menemukan jawaban. Ada kesenangan, ada kesedihan, ada suka maupun duka, ada kehidupan pasti ada kematian. Tuhan menginginkan kita untuk selalu terus belajar agar bisa menjalani hidup dengan lebih bijak. Itulah kenapa Eyang selalu menyuruhmu mengaji di langgar.”

Sebenarnya aku tak begitu paham semua kata-katanya, hanya saja aku terlanjur menganggukkan kepala.

“Eyang tak mau jadi dalang lagi? Lumayan daripada hanya mengurus tambak.”

“Le, nanggap wayang sekarang sudah jarang. Daripada mengeluarkan dana ratusan juta ‘kan lebih baik kalau buat acara dangdut atau organ tunggal. Biaya lebih terjangkau.”

“Teman-teman Eyang masih ada yang jadi dalang?”

Sambil mengelus jenggotnya yang penuh uban dengan sorot mata sebening kristal, ia memandang tajam jauh ke depan dan bergumam, “Ya, dan mungkin malaikat-malaikat yang jadi penontonnya. Aku tak tahu apa malaikat di atas sana juga butuh hiburan.”

Aku mengerutkan dahi. Eyang selalu menjawab semua pertanyaanku secara tersirat agar otakku belajar berpikir dan pelan-pelan memahami maksudnya.

“Apa ibu cantik?”

“Ya, rambut ikal dan kulit kemerahan sepertimu.”

Selain nama Eyang yang terus memberiku nasihat di penghujung senja, Eyang hanya bercerita terus tentang ibuku. Aku tak tahu seperti apa wajah dan di mana ayahku. Aku merasa Eyang benar-benar telah mengarang sejarah. Aku hanya anak pungut dan Eyang berusaha menyembunyikannya. Ia tak mau melukai perasaanku. Tapi, jika kukaitkan dengan mimpiku beberapa minggu lalu aku jadi ragu apakah Eyang benar-benar berbohong padaku.

Mimpi saat aku merasa tersesat dalam sebuah ruangan remang-remang dan hanya ada dentuman suara berisik namun berirama, sorot lampu yang terus bergerak-gerak mengikuti irama lagu dan aku malah makin pusing melihatnya. Tiba-tiba saja sosok wanita melintas tepat di depanku. Ia tak terlalu tinggi, kulit kemerahan dengan rambut ikal sepundak. Berjalan pelan masuk toilet dan tak lama ia keluar lagi. Ia terpaku di depan pintu memandang benda putih kecil di tangannya. Tiba-tiba datang laki-laki di depan pintu langsung mencium dagu dan pundak wanita itu. Tanggapannya dingin, tak berontak dan sedikit memelototi laki-laki di depannya yang menurutku kurang ajar. Jarak kami cukup jauh. Aku tak mendengar pembicaraan mereka. Tapi dari gerak-geriknya, mereka seperti sedang bertengkar.

Entah masalah apa hingga wanita itu membanting benda putih kecil di tangannya. Ia menangis lalu pergi begitu saja. Laki-laki itu hanya terdiam dan terus menyedot rokoknya. Entah siapa mereka aku tak tahu. Kenapa pula aku jadi kasihan pada wanita itu. Kenapa ia menangis? Laki-laki itu tak memukulnya. Malah menciumnya. Aku juga tak tahu sedang apa di sini dan mau apa? Mimpi menawanku dalam anggapan-anggapanku sendiri.

Esok hari, tiba-tiba Eyang menarik lenganku memasuki hamparan kebun-kebun jagung dan semangka. Jika tak kuturutkan rasa penasaran dan rindu pada ibu, aku tak mau jauh-jauh terus mengikuti Eyang. Angin pantai yang lembut terus mengantar kami. Entah ke mana Eyang akan membawaku. Memasuki jalan setapak berpasir yang diapit deretan pohon-pohon kayu putih di kiri dan kanan aku mulai paham jalan mana yang akan dituju. Ya, di bawah pohon-pohon inilah biasanya aku, Darmo, Ipung, Beton, dan Yuli main petak umpet dan patok lele. Tak salah lagi. Ini adalah jalan menuju makam. Aku tak paham maksud Eyang. Bukankah seminggu kemarin kami sudah nyekar di makam Eyang Putri? Apa ia rindu dan ingin datang lagi ke sini? Kepalaku benar-benar diisi ribuan pertanyaan mirip pasir yang menempel pada tumit dan ujung telapak kakiku.

“Sini Le, dekat Eyang.”

Ia duduk bersila, aku mengikuti di sebelahnya. Aku mendekat pada gundukan tanah di depanku. Sejenak rasa penasaranku membuat ingin bertanya. Namun, Eyang masih terus bergeming sambil merapal doa, kemudian menabur bunga yang aku bawa. Dari kendi dekat nisan ia tuang air sambil terus komat-kamit seakan membaca mantra. Aku lihat matanya mulai berkaca-kaca. Mata itu meleleh mengeluarkan butiran bening. Baru kali ini aku melihat Eyang menangis.

“Ini ibumu Le, ini ibu yang selalu kau tanyakan. Ia di dalam sini. Melihatmu tumbuh dan besar hanya dari ….”

Eyang tak kuasa melanjutkan kata-kata. Tangisnya pecah dan air matanya semakin deras. Ia merangkul kepalaku, ia tahan ke dadanya. Saat itu ubun-ubunku terasa basah seolah disiram air hangat. Aku tak bisa berkata apa-apa. Masih tak percaya dengan semua kata-kata Eyang dan apa yang ada di depan mata. Jika dari kecil aku sudah ditinggal ibuku lalu di mana ayahku sekarang? Kenapa Eyang tak pernah cerita?

“Maaf Le, Eyang benar-benar minta maaf. Eyang menunggu waktu yang tepat. Mungkin ini waktunya. Eyang selalu dihantui rasa bersalah. Tapi ini juga pesan dari ibumu. Eyang juga benar-benar tak tahu di mana ayahmu dan seperti apa wajahnya. Maaf Le, maaf jika Eyang mengarang….” getar suaranya membuatku terus teringat wajah perempuan dalam mimpi itu.

Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis
Sambate mlas arsa
Luhnya marawayan mili
Gung tinameng astanira

Sambil sesenggukan, tembang Maskumambang terus Eyang lantunkan di pusara ibu.


“Ini kuburan siapa Ayah?”

Sejak dulu, ia selalu memandang curiga kuburan di sebelah Eyang yang penuh bunga. Aku tak pernah cerita pada anakku jikalau kuburan itu adalah pusara ibunya. Anakku hadir ke muka bumi tepat saat istriku berpamit pergi. Selamanya. Pertanyaan itu pula yang tiba-tiba membuat sejarah hidupku seakan terulang. Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu dengan air mata.

Karena memang, Tuhan selalu menguji orang-orang terpilih.

*Pemenang lomba #YukMenulis pekan kelima yang diselenggarakan oleh Sobat Perpustakaan Mu’allimin.

Oleh: Dody Widianto
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

104FansSuka
1,063PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -