DRAP! DRAP! DRAP!
Terlihat tiga orang berlari cepat, bergegas menuju jantung kota Khalkam. Velza, Cassidy, dan Eira. Mereka adalah para Axtaran Sikha, yang berarti Para Pencari Berkah, mereka yang diberkati dengan darah emas dan ditakdirkan mengemban tugas untuk mengambil coreflame dari para Titan.
Kali ini mereka ditugaskan oleh Ashiira, satu-satunya di antara para Axtaran yang telah menjadi demigod, Demigod dari Romansa. Mereka diperintahkan mencari Profesor Kael, salah satu Axtaran Sikha yang seharusnya menjadi Pengemban coreflame dari Oktagenos, Titan Kalkulasi. Namun Kael mengabaikan takdir itu, karena ia belum menemukan alasan rasional atas perannya sebagai Axtaran Sikha.
Khalkam, kota ilmu, kini berubah menjadi reruntuhan. Korosi dari World Decoy (WD) melahap kota itu, memunculkan makhluk-makhluk aneh seperti ksatria bersenjata berat, membawa greatsword raksasa, yang menghancurkan segala kehidupan. Mereka dikenal sebagai Wretches Knight. Udara yang terkorosi mengubah manusia menjadi monster, tubuh mereka terdistorsi menjadi makhluk mengerikan yang kini disebut Wretches. Makhluk terkutuk yang lahir dari tanah yang telah terkorosi WD.
Ketiganya masih cukup jauh dari jantung kota, tempat Akademi Profesor Kael berada, sekaligus lokasi tubuh ilahi Oktagenos yang berbentuk pohon raksasa. Di sana, mereka dihadang oleh para Wretches yang telah lama berkeliaran sejak kejatuhan kota.
“Cih…” Velza berdecak. Ia mengayunkan Dawnbringer, pedang dengan simbol matahari di gagangnya, ke arah para Wretches. Cassidy tak kalah sigap, menebaskan sabitnya, mengisi celah di tengah. Eira menjaga perimeter belakang dengan rapiernya, mencegah serangan mendadak.
SLASH! SLASH!
“SIALAN!” umpat Velza sambil membuka jalan.
Gerombolan Wretches meraung, jumlah mereka semakin banyak, memadati jalan bak kawanan zombie.
TRANG! TRANG!
Benturan senjata menggema. Asap hijau kusam menutupi pandangan, bercampur bau besi menusuk. Langit Khalkam berubah abu-abu kehijauan, seperti luka terbuka yang membusuk.
“Velza! Jalur kiri mulai runtuh!” teriak Eira sambil menusuk leher Wretches.
Cass memutar Soulrend, membelah tubuh monster di depannya. “Fokus. Kita harus sampai ke inti kota sebelum WD melahap semuanya,” katanya datar.
“Aku tahu,” jawab Velza, menatap reruntuhan. “Tapi Wretches-nya tidak berhenti muncul.”
“Kita harus bergegas!” tegas Eira.
Namun tiba-tiba—
BRAAAKKK!
Sebuah Wretches Knight jatuh dari atas gedung, membawa greatsword raksasa. Tubuh setinggi enam meter itu menghantam tanah, menyebarkan retakan korosi.
“Wretches Knight?” desis Cass. “Di wilayah pinggiran?”
“Tak ada waktu!” Velza melesat, cahaya emas membungkus tubuhnya. “DAWNFLARE!”
Cahaya suci menghantam, namun Knight itu menahan dengan pedangnya. Dari helmnya, mata merah menyala.
SWOOOSH!
Tebasan besar membelah tanah. Velza terpental menghantam dinding.
“Velza!” teriak Eira.
Cass menyerang, tapi serangannya ditahan dan ia ditendang menjauh.
“Dia cepat,” gumam Cass.
Eira menyerang dari jauh, namun luka Knight itu menutup kembali.
“Regenerasi korosif,” bisik Cass. “Tubuhnya tersentuh inti WD.”
Velza bangkit. “Kalau begitu kita bakar semuanya!”
Ia menancapkan Dawnbringer. Lingkaran emas terbentuk.
“Yakin?” tanya Cass.
“Kota ini sudah mati,” jawab Velza.
“Baik. Aku jaga perimeter,” kata Eira.
Knight itu maju.
“DAWNBRINGER ASCENSION!”
Korosi dan cahaya bertabrakan.
BOOOOM!
Bangunan runtuh. Logam meleleh. Knight meraung, tubuhnya hancur perlahan.
WHOOM!
Ledakan cahaya menelan segalanya. Saat reda, hanya abu tersisa. Velza berdiri terengah.
“Kita harus pergi,” katanya.
Cass menatap cahaya biru dari Pohon Oktagenos. “Saatnya menemui Profesor Kael.”
Di jantung kota, Wretches justru lebih sedikit.
“Aneh,” gumam Velza.
“Mereka sudah dibunuh,” kata Cass.
Di depan Akademi Pillarist, puluhan mayat Wretches tergeletak. Semua mati dengan luka presisi di inti mereka.
“Bukan manusia biasa,” bisik Cass.
Aura asing terasa.
Di lantai teratas, sosok berjubah gelap berdiri, dikelilingi mayat Wretches Knight. Di depannya, Profesor Kael terduduk diam.
“PROFESSOR!” teriak Eira.
Sosok itu berbalik. Pedangnya mengarah ke mereka.
“Stand down… or die…”
Serangan tak terlihat melukai Cass dan Eira.
“Three slashes… are enough…”
Namun tiba-tiba—
Profesor Kael menusuk jantung sosok itu dari belakang.
“Can’t be killed in a single blow?” katanya sambil tertawa pelan.
Suasana mencekam.
Velza siaga. Cass membantu Eira.
Dan kebenaran tentang Kael mulai kabur.
To Be Continued
Kalkulasi dalam Keheningan, 1
Penulis: Intifadha Al Aqsa
Penyunting: Jawda Zahi Alghani