Merayakan Hari Radio Sedunia, UNESCO mengusung tema “Radio and Artificial Intelligence,” merefleksikan titik temu antara media penyiaran paling tangguh di dunia dengan teknologi yang sedang mengubah perputaran informasi peradaban.
Informasi pada masa sejarah lampau merupakan hal yang sangat berharga namun sulit untuk disebarkan. Para pembawa pesan, unit-unit pelopor di perbatasan kerajaan kuno, penjaga pos hingga pencatat dan penulis istana mendapat posisi penting. Mereka dihormati, dilindungi, dan sangat vital dalam perputaran pesan dan kabar wilayah kekuasaan dan di luarnya. Siapa pun yang lebih mengetahui keadaan dirinya dan lingkungannya, hampir bisa dipastikan ia akan berjaya.
Seiring perkembangan peradaban manusia, cara mendapatkan informasi semakin beragam. Surat kabar bermunculan, yang walaupun terbatas dan sering kali digunakan untuk kepentingan penguasa, berhasil menyebarkan hal yang baru kepada masyarakat yang biasanya mengetahui berita dari kabar burung.
Pada zaman ini, tentu sudah sangat berbeda kondisinya. Kita telah melompat sangat jauh dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan sehingga menciptakan alat-alat baru yang efektif menyiarkan kabar, berita, hingga bahkan hiburan secara luas. Salah satu yang paling tua, tetapi paling besar dampak dan ketangguhannya, adalah teknologi radio.
Muncul pada awal abad ke-20 dan menyebar secara masif menjelang Perang Dunia Kedua, radio telah digunakan oleh ratusan juta orang dalam berkomunikasi dan menyebarkan informasi. Media komunikasi radio dinilai sebagai platform yang paling demokratis, berbiaya rendah, dan mampu menjangkau khalayak luas, termasuk kelompok masyarakat yang terpinggirkan atau berada di wilayah terpencil.
Hari ini, Jumat, 13 Februari 2026, akan dirayakan Hari Radio Sedunia atau World Radio Day (WRD) dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesadaran publik akan betapa pentingnya radio sebagai sarana komunikasi.
Perayaan ini pertama kali diperingati oleh negara-negara anggota UNESCO pada tahun 2011 dan diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2012. Dipilihnya tanggal 13 Februari sendiri bukan tanpa alasan, melainkan untuk menghormati tanggal berdirinya Radio PBB (United Nations Radio) pada tahun 1946.
Nah, peringatan tahun ini terasa sangat istimewa sebab menandai titik temu antara media penyiaran paling tangguh di dunia dengan teknologi yang sedang sangat mengubah wajah peradaban manusia, yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). UNESCO, dengan mengusung tema “Radio and Artificial Intelligence”, berusaha merespons bagaimana perkembangan teknologi yang masif dalam ekosistem media, terutama radio sebagai media paling berpengaruh dalam penyebaran informasi.
Alih-alih melihat teknologi ini sebagai ancaman, tema ini justru menekankan posisi AI sebagai “sekutu” bagi penyiar.
Arti posisi Kecerdasan Buatan (AI) sebagai “sekutu” bagi penyiar—baik radio maupun televisi—bukanlah untuk menggantikan peran manusia secara total, melainkan sebagai alat bantu yang membantu efektivitas dan efisiensi operasional penyiaran. AI bertindak sebagai mitra kolaboratif yang menangani tugas-tugas teknis yang repetitif sehingga memungkinkan penyiar manusia lebih berfokus pada aspek jurnalistik yang lebih mendalam, seperti emosi, empati, dan analisis kritis dalam pembahasan isu atau kabar yang sedang dibahas.
Penggunaan AI sendiri tetap memiliki batasan dan etikanya. AI tidak memiliki intuisi, empati, dan kemampuan penilaian etika layaknya manusia. Seorang penyiar tetap memegang peranan krusial dalam verifikasi fakta serta konteks dan emosi dari kabar yang dibawa.
Dengan banyaknya berita simpang siur di dunia maya, di mana algoritma media sosial sering kali menciptakan gelembung informasi (filter bubble), kehadiran AI inilah yang dapat membantu manusia memfokuskan berita yang akan disampaikan dan memberikan jiwa pada isu-isu terkini dengan konten-konten yang terkoneksi bersama manusia lainnya.
Di sinilah makna peringatan Hari Radio tahun ini berada, yakni tentang evolusi. Radio tidak lagi hanya kotak bersuara di sudut ruangan. Saat ini, radio hadir dalam bentuk streaming di ponsel, podcast yang bisa didengar kapan saja, hingga integrasi di dashboard mobil pintar yang terhubung internet. Kehadiran AI justru memperkuat posisi radio dengan memungkinkan personalisasi konten yang lebih baik tanpa menghilangkan sentuhan personal penyiar yang menjadi jiwa dari radio itu sendiri.
Peringatan ini bukan hanya perjalanan ke masa silam dengan gaya vintage ataupun nostalgia orang tua terhadap teknologi yang dahulu menemani dan menghibur mereka. Ini adalah perayaan atas tangguhnya sebuah media yang terus berinovasi. Dengan merangkul kecerdasan buatan, radio di tahun 2026 bertransformasi menjadi media yang lebih cerdas, efisien, dan inklusif tanpa kehilangan jati dirinya sebagai “teman” setia pendengar.
Rayakanlah hari ini dengan menengok kembali stasiun-stasiun radio favorit kita saat menunggu macet ataupun arahan kakak kelas saat kemah, baik itu melalui frekuensi analog maupun streaming digital.
Demikian, selamat Hari Radio Sedunia!
SUMBER
https://en.wikipedia.org/wiki/WorldRadioDay
https://www.un.org/en/observances/radio-day
https://www.unesco.org/en/days/world-radio
Penulis: Muhammad Syawal Satriaji
Penyunting: Jauda Zahi Alghani