26.2 C
Yogyakarta
Sabtu, 28 Februari 2026
BerandaCerpenSANLOOP: Kalkulasi & Romansa

SANLOOP: Kalkulasi & Romansa

Udara di markas bawah tanah itu tetap bergetar lembut, menyisakan sisa-sisa distorsi dari portal Oktagenos. Reruntuhan cahaya biru perlahan memudar, digantikan aroma batu lembap dan bau logam dari dinding-dinding hitam yang membentuk ruangan raksasa berkubah.

Velza berdiri bersandar pada pedangnya yang sudah retak. Cass duduk di tangga batu dengan sabit di pangkuannya. Sementara Kael—hanya menatap kosong ke langit-langit kubah, napasnya berat, namun ekspresinya… anehnya lega.

“Heh…”

Senyum kecil terukir di wajahnya.

“Setidaknya… dia belum di sini.”

Velza melirik. “Dia? Siapa?”

Kael mengangkat tangan lemah, menunjuk simbol besar di dinding—lambang Axtaran Sikha.

“Si Dewi Aturan Bertopeng Cinta itu. Ashiira. Kalau dia ada di ruangan ini, aku sudah dibakar hidup-hidup sejak tadi.”

Cass bicara pelan. “Kau masih berani menyindir pemimpinmu sendiri… Professor, padahal baru saja kau menyatu dengan Coreflame Titan.”

Kael menatapnya tajam, tapi nada bicaranya tetap malas.

“Pemimpinku? Jangan bercanda, Cass. Aku tak pernah tunduk pada siapa pun, apalagi pada Demigod yang hobinya mendikte moral dan romansa seolah dunia ini masih punya definisi cinta yang masuk akal.”

Velza menunduk, menahan tawa pendek.

“Masih sama ya. Dulu di akademi saja kau bisa bikin tiga dosen berhenti mengajar gara-gara debat soal ‘makna logis dari kasih sayang’.”

Ia mendongak sedikit.

“Sekarang lawanmu Demigod beneran.”

Kael memutar mata, mengembuskan napas berat.

“Kasih sayang? Heh. Kata itu bahkan tak punya formula dasar yang bisa dihitung. Makanya aku tak pernah percaya pada konsep cinta—apalagi romansa. Dan Ashiira…”

Ia terdiam sejenak, menatap logo di dinding dengan tatapan dingin.

“Dia adalah manifestasi hal yang paling aku benci: perasaan yang dipaksa jadi hukum.”

Velza menatapnya datar. “Kau bicara seperti seseorang yang sudah pernah kalah oleh perasaan itu.”

Kael berhenti. Senyumnya memudar setipis bayangan.

“…Mungkin,” katanya pelan.

Keheningan kembali menelan ruangan. Mesin-mesin pelindung markas bergemuruh lembut di kedalaman tanah.

Eira, yang sejak tadi berusaha berdiam diri, akhirnya bersuara.

“Kael… apa Nona Ashiira tahu tentang ini?”

Kael tertawa pendek.

“Tentu tidak. Kalau dia tahu aku bukan cuma menyentuh Coreflame, tapi menyatukannya dengan tubuhku, aku sudah digantung di ruang inti markas ini dan dijadikan contoh tentang ‘penyimpangan terhadap takdir ilahi.’”

Velza menyeringai miring. “Kedengarannya seperti hal yang benar-benar akan dia lakukan.”

Kael menghela napas panjang.

“Dia selalu benar—setidaknya menurut perhitungannya sendiri. Itulah masalahnya. Dia adalah personifikasi aturan… yang diisi oleh hal paling tak logis di dunia ini: perasaan.”

Cass melangkah mendekat, menatap Kael sedikit datar.

“Yah, tapi kenapa Professor terlihat benci dengan perasaan itu?”

Kael menatap balik, kali ini tanpa senyum.

“Aku tak benci perasaan, tapi aku benci perasaan yg dipaksa untuk menjadi dasar hukum yg ada.”

Ia berdiri perlahan, menepuk debu di pakaiannya—

Tiba-tiba, salah satu simbol runik di dinding bergetar pelan.

Lingkaran cahaya muncul, memancarkan warna merah muda lembut yang perlahan membentuk siluet seorang perempuan berambut panjang, berpakaian seperti imam suci. Namun aura di sekitarnya membuat udara terasa berat, nyaris menyesakkan dada.

Cahaya proyeksi itu menstabil. Sosok Ashiira kini jelas—rambutnya seputih cahaya, jubahnya berhias ukiran menyerupai serat kristal. Di belakangnya, sepasang sayap cahaya melengkung anggun—bukan untuk terbang, melainkan simbol otoritas ilahi.

Aura hangat itu tak menipu siapa pun di ruangan ini. Di balik kelembutan tatapannya, tersembunyi tekanan yang mampu menundukkan makhluk sekelas Titan.

“Velza,” ucapnya lembut, “aku berterima kasih. Kau dan timmu telah membawa Kael kembali dengan selamat. Itu bukan hal mudah, mengingat kondisi Khalkam saat ini.”

Velza menunduk sedikit. “Kewajiban kami, Lady Ashiira.”

Cass memberi salam singkat. Eira menunduk diam, wajahnya masih lelah.

Ashiira menatap mereka satu per satu.

“Aku memantau runtuhnya barikade energi Khalkam dari kejauhan. Korosi World Decoy meluas terlalu cepat… bahkan Titan tak mampu menahan degradasinya. Ceritakan apa yang terjadi.”

Velza maju selangkah.

“Kami menemukan Profesor Kael di inti Akademi Pillarist, di hadapan tubuh ilahi Oktagenos yang telah menyatu dengan akar korosi. Tapi beliau tidak sendirian…”

Ia berhenti sejenak.

“—ada sosok asing. Bertopeng. Berseragam berat. Tidak terdeteksi oleh sistem kalkulasi apa pun. Ia membantai seluruh Wretches dan Wretches Knight tanpa meninggalkan residu energi.”

Cass melanjutkan, suaranya sedikit serak.

“Serangan kami ditiadakan. Elemen suci, kematian, bahkan air… tak bereaksi.”

Eira menambahkan pelan.

“Ia menyebut ‘Loop’. Katanya… siklus ini harus berakhir.”

Senyum Ashiira memudar. Cahaya di sekitarnya bergetar samar.

“Loop…” gumamnya, seperti mengulang kata kuno.

Velza melanjutkan,

“Profesor Kael, atau lebih tepatnya, Titan Kalkulasi Oktagenos dalam tubuhnya menahan makhluk itu agar kami bisa kabur. Kondisinya sekarang… belum stabil.”

Ashiira mengangguk perlahan, lalu menatap Kael.

“Kael. Kau telah melanggar tiga hukum Axtaran Sikha.”

Kael bersandar malas di kursi batu, kaki disilangkan.

“Menyentuh Coreflame Titan tanpa izin, menyatukannya dengan tubuh fana, dan membiarkan entitas Titan menguasai kesadaranmu. Kau tahu konsekuensinya.”

Kael mendesah panjang.

“Ya, ya. Hukuman mati. Penghapusan eksistensi. Atau pengasingan multidimensi. Sudah kubaca pasal tujuh, ayat tiga belas.”

Velza menunduk, menahan tawa.

Cass melirik kosong, tapi Kael hanya mengangkat tangan.

Ashiira tersenyum—dingin, seperti pisau tersembunyi di balik bunga.

“Seperti biasa. Lidahmu lebih cepat dari logikamu.”

“Salah,” jawab Kael datar. “Logikaku terlalu cepat untuk lidah siapa pun di ruangan ini.”

Hening. Dua kutub saling berhadapan—Cinta Ilahi dan Kalkulasi Absolut.

“Aku tidak akan menghukummu sekarang,” ucap Ashiira akhirnya.

Matanya beralih ke tim Velza.

“Dunia masih membutuhkan kecerdasan Kael… sebelum waktu yang tersisa padanya habis.”

Eira menatap kaget. “Anda tahu… tentang empat belas hari itu?”

“Tentu,” jawab Ashiira lembut. “Coreflame Titan tak bisa disembunyikan dariku.”

Velza mengencangkan genggaman pada pedangnya, tapi tak berkata apa pun.

Cass berbisik, “Dia tahu segalanya, ya?”

Kael menjawab tanpa menoleh

“Sayangnya? Ya.”

Ashiira melanjutkan, nadanya kini jarang mengandung kekhawatiran.

“Sosok bertopeng itu bukan makhluk biasa. Aku belum bisa memastikannya, tapi… aku khawatir ia lahir dari luar siklus penciptaan.”

“Bukan dari dunia mana pun?” tanya Velza.

“Bukan dari dunia ini. Bukan pula dari dunia lain,” jawab Ashiira.

“Dari celah tempat cinta, kematian, waktu, dan logika… tak punya definisi.”

Kael mendengus pelan.

“Celah tanpa definisi, ya? Untuk seseorang yang menganggap cinta itu suci, kau mulai terdengar sepertiku.”

Ashiira tersenyum lembut.

“Dan untuk seseorang yang menolak cinta, Kael… kau terlalu sering bertaruh nyawa demi sesuatu yang tak bisa kau jelaskan.”

Kael memalingkan wajah.

“Aku bertaruh demi mencapai kebenaran.”

“Apapun namanya,” balas Ashiira, “kau tetap manusia yang tak bisa lepas dari keduanya.”

Velza berdeham.

“Apa langkah selanjutnya, Lady Ashiira?” Tanya Velza.

“Pulihkan diri kalian,” jawabnya mantap.

“Dan untuk saat ini…” tatapannya kembali pada Kael. “…jaga dia tetap hidup.”

Cass mengerjap. “Perintah yang mustahil.”

Ashiira tersenyum tipis.

“Axtaran Sikha terbiasa menghadapi kemustahilan.”

Cahaya itu memudar. Keheningan kembali.

Kael menguap.

“Setidaknya kali ini dia tak ceramah soal dosa moral.”

Cass hanya menatap datar.

“Suatu hari lidahmu akan membunuhmu lebih cepat dari Coreflame itu, Professor…” Ucap Cass

Kael tersenyum tipis.

“Kalau begitu, pastikan aku sempat mendebat Ashiira sekali lagi.”

Velza dn Eira tertawa pendek.

Dan untuk pertama kalinya sejak Khalkam, keheningan itu terasa… agak manusiawi.

Penulis: Intifadha Al Aqsa
Penyunting: Jawda Zahi Alghani
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

109FansSuka
339PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -