24.5 C
Yogyakarta
Senin, 15 April 2024
BerandaCerpenUcapan Selamat untuk Selamat Tinggal

Ucapan Selamat untuk Selamat Tinggal

“Bu, aku langsung berangkat aja ya! Udah jam 6.45 nih. Aku makan di sekolah aja.” Ucapku sambil menuntun sepeda keluar dari garasi.

“Iya nak, hati-hati. Jangan lupa dimakan bekalnya.” Balas Ibu sambil tersenyum.

Kukayuh sepedaku secepat mungkin agar cepat sampai ke sekolah. Karena jarak antara rumah dengan sekolahku itu lumayan jauh dan ditambah waktu yang tidak banyak, hanya 15 menit lagi gerbang sekolahku akan ditutup.

***

Sesampainya di sekolah, kurang 3 menit bel masuk berbunyi. Ini sudah pukul 06.57, nafasku tersengal-sengal. Aku bergegas masuk kelas yang berada di gedung A lantai 2.

“Bim!” Seseorang memanggil. “Gilaaa, baru sampai? Ngapain aja jam segini baru sampai?”

“Aku bangun telat ,Tam.” Balasku dengan menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Haha…. sesuai dugaanku.” Ucapnya.

Aku berjalan pelan menuju kelas dengan si Tami, teman dekatku dari kelas 7. “Eh, pelajaran pertama apa ,Tam?”

“IPA woyyy!! Masa lupa? Apa jangan-jangan kamu gak bawa bukunya?” Tami menjelaskan.

DEGG, aku lupa!! Guru IPA kami adalah guru paling teliti di SMP ini. Aduh, bagaimana nasibku……

Di sudut Gedung, sudah tampak wajah tegasnya dengan kacamata dan kertas absensi di tangan kanan dan tas gendong berwarna hitam. Aku pasrah…..

***

”Baik anak-anak, saya absen dulu ya, silahkan keluarkan buku kalian.” Ucap Pak Tono tegas.

Aku panik bukan kepalang, Bagaimana tidak? Aku absen ke 5 dari 20 orang di kelas ini!. Pasrah sudah kepada nasib…..

“Bimo Wicaksono!!”

“Hadir pakk” Ucapku dengan nada gemetar.

“Mana bukumu, hah?.” Gertak Pak Tono.

“I-itu Pak, a-anu,  ketinggalan dimeja belajar saya, Pak,” jawabku.

“Kok bisa?? Ckckckck Bimo…Bimo…., kamu keluar dan lakukan hukuman dari bapak!!!.” Pak Tono melepas kacamatanya.

Tapi, heii, ternyata Tami juga terkena hukuman itu. Aku tertawa melihat temanku yang mengingatkan tapi ternyata kena hukuman, hahahaha.

***

“Kok kena hahahaha…..” Ucapku dengan tertawa.

“Diam kamu…..” Jawab Tami murung. “Ck, kok bisa ya padahal udah aku masukin ke tasku lho, tapi malah salah buku.”

“Makanya sok nasehatin sih….” Ucapku dengan lagak sok.

“Habis pelajaran IPA mau ke kantin gak?.” Ajak Tami.

“Boleh….boleh.” Jawabku dengan masih sedikit tertawa.

Tami menghempaskan nafas, marah.

Tapi bagaimanapun juga di itu teman dekatku. Seru rasanya menertawakan teman, hahaha….

***

“Beli apa kamu, Tam?” Tanyaku.

“Es teh aja, Bim.” Jawabnya.

Aku mengiyakan dan langsung memesan 2 gelas es teh di salah satu stand. “Pesan 2 esteh, Bu.”, Selagi menunggu, Aku dan Tami mengobrol tentang banyak hal, termasuk hal bodoh yang dilakukan Tami dan akhirnya dia mendapatkan hukuman dari Pak Tono. Tak selang beberapa lama, es teh itu datang dan tanpa lama kami langsung menyeruput es teh itu.

“Ahhhh… seger banget, asli.” Ucap Tami.

“Iyaaa.” Jawabku.

“Beli makan sekalian, gih.” Pinta Tami sambil masih sibuk dengan es tehnya.

“Mau apa kamu?” Tanyaku.

“Mmmm… batagor aja deh.” Tami selesai menghabiskan es teh.

“Pedes gak?” Tanyaku kembali.

“Pedes lah, gila!”

***

Lanjut, kami memakan batagor spesial yang pedasnya menggoyang lidah kami dan entah kenapa aku menemukan sesuatu topik pembicaraan. Dengan mulut yang masih mengunyah, Aku langsung bertanya. “Oh iya, Tam. Kamu mau ngelanjutin SMA dimana nanti?”.

“Telan dulu tuh batagor, gak baik makan sambil ngomong.” Ucap Tami menasehati. “Aku sih kayaknya SMA GALAKSI aja, Bagus juga sekolahnya, Aku juga mau nerusin bakatku di IPS, biar bisa menang lomba tingkat nasional, hehe.”

Kalian perlu tahu bahwa Tami ini memang dari kelas 8, dia sudah gemar belajar apa saja seputar IPS, dan dia sering sekali mengikuti cabang perlombaan di manapun itu.

“Aku ikut kamu aja deh.” Pintaku.

“Ya kalo itu sih terserah kamu.” Jawab Tami santai. “Tapi jangan lupa belajar loh Bim, tingkatin terus tuh belajarnya.”

Dia memang salah satu teman dekatku yang emamng selalu mengingatkanku tentang belajar, belajar, dan belajar. Entahlah, mungkin memang sejak kecil, dia selalu menyukai yang Namanya “Belajar” apapun itu, itulah yang membuat dia selalu menjadi juara kelas berturut-turut.

**

“Hai Bim.” Sapa Tio, teman sekelasku juga yang rumahnya lumayan dekat dengan rumahku. ”Habis dari mana?”.

“Habis dari kantin nih.” Jawabku dengan tersenyum tipis.

“Nanti pulang bareng ya.” Pinta Tio.

Aku mengiyakan, sekolah kami memang hanya sampai pukul 12.00 atau tepatnya setelah shalat Zuhur. Itu pun hanya sampai hari Jumat, karena hari Sabtunya ada jadwal ekstrakurikuler di sekolah kami. Hari yang melelahkan….

***

Besok paginya, pelajaran IPA masih tetap ada di jam pertama. Hari ini jadwal kami melakukan sebuah praktik dan hari ini aku tidak lupa soal buku IPA.

“Bimo? Bawa bukunya gak?”. Tanya pak Tono.

“Kalo sekarang bawa lah Pak.” Jawabku yakin.

“Sip, teruskan, jangan sampai lupa lagi ya…” Timpal pak Tono.

Dan begitulah keseharianku dengan melewati berbagai macam ujian dan aku lulus dengan hasil yang memuaskan.

3 Bulan kemudian…..

“Wih selamat ya, Bim. Nilai Bahasa Indonesiamu tertinggi di kelas kita!” Ucap Tami.

“Eh, iya kah? Kok bisa?”. Tanyaku heran.

“Liat pengumuman tuh di mading depan kelas.” Jelas Tami.

Tanpa lama, aku langsung berlari kecil ke arah mading depan kelas dan ternyata benar, Nilaiku tertinggi di kelasku pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, 98. Sementara Tami, Dia ranking 1 kembali dan mendapat nilai tinggi dalam mata pelajaran IPS, nilai dia 100. Ya, sudah jelas, memang si Tami ini sudah ahli dalam bidang IPS.

“Selamat ya, Tam.” Ucapku.

“Hahahah… makasih, Bim.” Jawabnya.

“Libur kamu kemana?” Tanyaku.

“Mmm… ga tau juga sih mau ke mana, ga ada rencana juga soalnya, toh liburnya cuma seminggu.” Jelas Tami.

Besok adalah hari libur setelah kami melaksanakan ujian nasional, Seminggu itu sangat cukup untuk kami yang lelah dengan seluruh latihan-latihan sepreti itu.

Setelah liburan…

Tepatnya di hari Rabu, pelepasan pun akhirnya tiba, kami semua mengikuti acara tersebut dengan khidmat dan disaksikan oleh seluruh orang tua kami. Itu menjadi suasana yang sedih. Bagaimana tidak? Kami akan berpisah dan akan melanjutkan ke SMA yang telah dipilih. Kebanyakan dari anak perempuan sibuk ber-selfie, Tio menyalamiku dan memberi ucapan selamat untuk kedua kalinya. Momen paling ditunggu tunggu ialah momen foto bersama, disitulah momen terakhir kami yang akan dikenang hingga kelak dewasa nantinya.

***

Begitulah masa SMP-ku, Tidak ada yang menarik menurutku, Semua jalan seperti biasanya dan hari ini adalah hari pertamaku di SMA GALAKSI. Aku dan Tami sudah beda kelas, dia IPS 1 sementara aku IPS 2.

“Gimana kelasmu?”. Tanyaku.

“Lumayan, seru-seru semuanya.” Jawabnya.

“Mau ke kantin?”. Pintaku.

“Boleh, yuk.” Tami memimpin jalan.

Sesampainya dikantin, kami memesan soto dengan es jeruk yang mungkin sudah menjadi menu favorit disekolah ini. Kami memilih tempat duduk yang kosong, dan selang beberapa menit, pesanan kami datang.

“Keinget kelas 9 dulu.” Kataku.

“Hahaha… masih inget aja kamu, Bim.” Tami tersenyum tipis. “Aku sekarang yang bayar, dulu kan kamu udah pernah bayar, nah sekarang gantian.”

Aku mengangguk, “Terima Kasih, kawan.”

***

Di kelas, aku masih memikirkan obrolan bersama Tami tadi. Kena-

“Bimooooo….. perhatikan kedepan, kamu kok melamun sih.” Teriak Bu Nisa.

“Eh i-iya, maaf….” Aku memperbaiki posisi duduk.

Begini, Tami akan sedang mengikuti seleksi perlombaan tingkat nasional dalam mata pelajaran Geografi, sebenarnya itu adalah kabar yang bagus, sangat bagus. Tetapi, yang membuat aku murung ialah dia akan pergi ke luar pulau untuk waktu yang cukup lama.

Selesai pelajaran, aku menghampiri Tami “ Gimana seleksinya?”.

“Ya, 3 hari katanya. Ini hari ke-2, aku akan mengikuti seleksinya dan besok adalah hari terakhir, doain ya, Bim” Jelasnya.

Aku ber-ohh pelan, ”Iya iya aku doain.”

***

Kabar baik dan kabar buruk muncul seminggu kemudian. Ya, Tami lolos seleksi itu dan akan berangkat tidak lama lagi, Itu kabar baiknya. Kabar buruknya dia akan pergi untuk waktu yang cukup lama. Teman-teman kami mengucapkan selamat kepada Tami  dan juga para guru.

“Hebat kamu, Tam.” Pujiku. “Tingkatin terus belajarnya!!”.

“Hehehe…. Makasih pujiannya dan hi, itu kata-kataku.” Tami tersenyum.

“Aku pulang duluan ya, Hati-hati, Tam.” Aku melambai tangan.

“Iya, Bim” Tami balas melambai.

***

Aku besyukur punya teman seperti Tami, dia baik dalam segala aspek. Ya,aku akan rela dia pergi untuk sesaat……

Di sekolah….. H-1 sebelum keberangkatan Tami menuju Pulau Sulawesi.

“Kamu dah siap-siap belum?”. Tanyaku.

“Udahlah hehehe….” Jawabnya sambil meringis.

“Makasih buat semuanya, Tam…..” Kepalaku tertunduk

“M-maksudnya?” Tanya Tami heran.

“Makasih dah mau jadi teman sejatiku. Makasih.” Aku membungkukkan badanku.

“Apa sih, Bim? Udah-udah aku juga sama.” Pinta Tami.

“Aku nanti sore akan pindah.” Aku membuka topik.

“Eh…. EHHHHHHH…..” Tami kaget.

“Ya, aku akan pindah sekolah dan rumah.” Aku meghebuskan nafas panjang. “Jadi tadi malam, aku kebangun dan aku denger semua obrolan dan perdebatan orang tuaku. Ayahku mendapat panggilan dari pusat untuk pindah tempat dan kalo bisa ajak sekeluarga.”

“Sebenarnya aku juga sangat menolak, aku udah nyaman tinggal selama 7 tahun disini, walaupun ini bukan tempat kelahiranku. Tapi, disini banyak sekali kenangan indah.” Aku meneteskan air mata.

“Jangan…. Jangan pergi Bimmmmm, kamu satu-satunya teman baikku, jangan pergi….” Tami pun menumpahkan air matanya.

“Hei, jkita masih bisa berbincang di sosial media, lho. Jadi masih bisa saling bertukar kabar.” Jelasku.

“Okelah, aku bisa terima kalo itu memang bukan kemauanmu untuk pindah.” Tangisan Tami tumpah di pundakku, biarlah, biarlah tangisya tumpah, dia teman terbaikku, biarlah….

“Aku pamit, Tam. Makasih ya…” Ucapku untuk yang terakhir kalinya.

“Sering-sering ngasih kabar, Bimmmm. Semoga nyaman di tempat baru, doain aku juga yaaa!!!!!” Teriak Tami yang masih menangis.

Aku mengangguk dan pergi…..

Terima kasih temanku, terima kasih atas segala canda dan tawamu, terima kasih atas segala suka dukanya selama ini. Sampai jumpa teman sejatiku, mungkin ini menjadi ucapan selamatku untuk selamat tinggal.

Oleh : RIfa'i Hilmy Arrasyid
Editor : Bianveneida Madiva Khanza
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

104FansSuka
1,063PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -