Suasana pagi ini terasa begitu hangat dengan sinar matahari yang cerah dan penuh semangat. Para peserta kembali melanjutkan rangkaian kegiatan pada hari ketiga PKDTM 1.
Kegiatan diawali dengan senam pagi yang menyehatkan jasmani, disertai senda gurau antarpeserta sebelum akhirnya kembali bersiap mendengarkan materi yang disampaikan.
Materi pertama pada hari ini disampaikan oleh Muhammad Yasir Abdad mengenai critical thinking atau cara berpikir logis dan sistematis. Peserta diajak berdiskusi serta berpartisipasi aktif dalam suasana yang interaktif.
Dalam pemaparannya, Kak Yasir Abdad menjelaskan bahwa kecacatan dalam berlogika sering kali terjadi dan keberadaannya kerap tidak disadari. Padahal, hal kecil tersebut sangat krusial bagi pembentukan dan perkembangan pola pikir manusia.
Beberapa bentuk logical fallacy atau kesalahan berpikir yang dijelaskan oleh Kak Yasir di antaranya adalah hasty generalization, ad hominem, ad verecundiam, dan slippery slope.
Hasty generalization merupakan sikap ketika seseorang menganggap suatu pengalaman dapat digeneralisasikan menjadi kesimpulan yang sama. “Kamu pernah makan bakso di suatu tempat dan ternyata tidak enak. Lalu, ketika diajak makan bakso lagi di tempat berbeda, kamu langsung menolak karena menganggap rasanya pasti tidak enak juga. Di situlah letak kesalahan berpikirnya,” jelasnya.
Selanjutnya, ia juga menjelaskan tentang slippery slope, yaitu bentuk kesalahan berpikir yang menunjukkan bahwa ketika seseorang melakukan suatu hal, maka kejadian-kejadian tidak masuk akal lainnya akan ikut terjadi.
Pada sesi akhir, Kak Yasir kembali menampilkan dua bentuk logical fallacy lainnya sebagai tambahan wawasan bagi peserta. “Ad hominem dan ad verecundiam ini sangat mengerikan, teman-teman,” ungkapnya. Menurutnya, kedua bentuk sesat pikir tersebut sering muncul dalam bentuk pengalihan pembicaraan atau kecenderungan mudah terdoktrin oleh kekuatan posisi seseorang yang berbicara maupun menyampaikan informasi. “Kalau mau lihat contohnya, banyak kok di negeri kita,” tambahnya.
Setelah mengikuti materi yang menarik tersebut, pada pukul 13.00 dilaksanakan kegiatan Sarasehan Organisasi Santri bersama para alumni Keluarga 99 di Joglo Dharmais sebagai bagian dari rangkaian Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati (PKDTM) 1. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah alumni organisasi santri Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta yang telah aktif di berbagai bidang organisasi pada masanya.
Pada awal talkshow, Ipmawan Ibad memperkenalkan para alumni yang hadir. Mereka berasal dari berbagai organisasi santri, seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Hizbul Wathan (HW), Lembaga Pers Mu’allimin (LPM), Mu’allimin Scientific Community (MSC), Student of Mu’allimin Medical Team (SUMMIT), Tapak Suci, hingga Sobat Perpustakaan Mu’allimin. Para alumni hadir untuk membagikan pengalaman sekaligus memberikan pandangan mengenai pentingnya organisasi santri bagi perkembangan diri pelajar.
Athaullah Ar-Rumi, alumni Hizbul Wathan, menceritakan pengalamannya selama aktif di organisasi tersebut. Kak Rumi, sapaan akrabnya, mengaku sempat tertarik bergabung dengan IPM. Namun, karena keadaan yang membawanya ke arah berbeda, ia akhirnya memilih Hizbul Wathan karena sebelumnya telah mengikuti komunitas yang berada di bawah naungan HW.
Sementara itu, alumni Lembaga Pers Mu’allimin, Daffa Firasandy Zain, menyampaikan bahwa organisasi tidak selalu harus selaras dengan stereotip yang melekat pada organisasi tersebut. Ia mencontohkan bahwa ketika bergabung di LPM, dirinya lebih berfokus pada pengembangan keterampilan pribadi dibanding sekadar menjalankan identitas organisasi.
Pengalaman lain disampaikan oleh Tahta Al-Kautsar dari Mu’allimin Scientific Community. Ia mengungkapkan bahwa dirinya dahulu tertarik pada dunia medis dan sempat berpikir untuk bergabung dengan SUMMIT karena lebih banyak praktik kesehatan. Namun, karena beberapa pertimbangan, ia akhirnya memilih MSC. Menurutnya, di MSC dirinya memperoleh banyak pengalaman, mulai dari kemudahan akses laboratorium hingga kesempatan memperdalam ilmu pengetahuan alam.
Dalam sesi berikutnya, mantan Kepala Bidang Perkaderan IPM, Adefa Razka, membagikan tantangan selama menjadi bagian dari organisasi pelajar. Ia mengaku bahwa tekanan untuk menjadi teladan bagi adik kelas merupakan tantangan tersendiri. Banyak anggapan bahwa kader IPM harus selalu mampu memberikan contoh terbaik sehingga dirinya harus terus menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
Hal serupa juga disampaikan oleh alumni Tapak Suci, Andi Rayan. Ia mengatakan bahwa menegur teman sebaya terkadang lebih sulit dibanding menegur adik kelas. Menurutnya, karena berada dalam lingkungan yang sama, rasa tidak enak sering muncul ketika harus mengingatkan teman sendiri.
Alumni Sobat Perpustakaan Mu’allimin, Ghifari Ahmad, turut membagikan pandangannya mengenai tantangan dalam organisasi. Ia menyampaikan bahwa organisasi bukan hanya tentang kemampuan komunikasi, tetapi juga tentang tanggung jawab dan manajemen prioritas. Menurutnya, organisasi tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, melainkan juga pribadi yang siap bertanggung jawab dan mampu menjalankan amanah yang diberikan.
Sementara itu, alumni SUMMIT, Jehan Kawiswara, menceritakan motivasinya saat aktif di organisasi tersebut. Ia mengaku terdorong untuk mengubah stigma masyarakat terhadap SUMMIT. Meski merasa tidak memiliki kemampuan khusus di bidang kesehatan, dirinya tetap ingin memberikan kontribusi nyata bagi organisasi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas relasi SUMMIT dengan berbagai pihak di luar sekolah. Berkat langkah tersebut, SUMMIT dinilai semakin dikenal dan lebih diterima di lingkungan sekolah lain.
Melalui kegiatan sarasehan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai dinamika organisasi santri, tetapi juga memahami bahwa organisasi dapat menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan, membangun relasi, serta melatih tanggung jawab dan kepemimpinan.
Tak terasa, setelah menjalani rangkaian kegiatan dan mendengarkan berbagai ilmu yang disampaikan, pada malam harinya peserta melaksanakan Makrab atau Malam Keakraban. Kader tingkat tiga dituntut untuk terus dekat dan saling menjaga antarangkatannya tanpa menghilangkan rasa hormat satu sama lain.
Penampilan dari masing-masing kelas menunjukkan ciri khas dan kepribadian tersendiri. Hal tersebut semakin menyadarkan para peserta akan hangatnya rasa kekeluargaan yang terjalin.
Tidak lupa, kegiatan Peneguhan Kader Taruna Melati 1 dilaksanakan setelah Malam Keakraban. Kegiatan ini menjadi pengingat bagi seluruh kader untuk terus teguh dan menguatkan tekad dalam menghadapi berbagai rintangan. “Taruna Melati bukan tempat bagi orang-orang yang lemah, baik secara fisik, mental, maupun akal,” tegas Ahmad Badir Hamam Zadisa selaku panitia acara.
Acara kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu Janji Kader secara bersama-sama sebagai bentuk refleksi dan penguatan diri bagi seluruh peserta.
Penulis : Adib Jordi, Eprillio Iqbal Rasendria
Penyunting : Adib Jordi, Eprillio Iqbal Rasendria
Fotografer : Akbar Dzulfikar, Muhammad Rafif Farrel
