25.2 C
Yogyakarta
Senin, 1 Desember 2025
BerandaCerpenSANLOOP: Sang Variabel Asing

SANLOOP: Sang Variabel Asing

Tubuh sosok bertopeng itu sempat terhuyung setelah tusukan Kael¿ menembus jantungnya.
Tapi tak lama kemudian, terdengar suara retak halus, seperti logam yang memulihkan diri.
Cairan hitam kehijauan menetes dari luka itu, lalu berhenti mengalir. Dalam hitungan detik,
lubang di dadanya menutup sepenuhnya — seolah luka itu hanyalah ilusi semata.
Kael¿ menyipitkan mata. “Regenerasi? Tidak… ini bukan regenerasi biasa. Ini… rekalkulasi
molekular.”
Suara yg bergema dalam dirinya bergetar, membuat udara di sekelilingnya terdistorsi samar.
Sosok bertopeng itu mendongak perlahan, kepalanya menoleh sedikit, suara berat bergema
dari balik helm.
“…The coreflame…”
Matanya—atau sesuatu yang seolah menggantikan mata di balik topeng itu—berkilau
dengan cahaya ungu pekat.
“Shameless… machine of imitation…” katanya pelan.
Dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan.
ZRAATTT!!
Velza menangkis refleks, Dawnbringer beradu dengan bilah hitam yang tiba-tiba muncul dari
arah kanan. Suaranya seperti dua dunia bertabrakan, dentumannya mengguncang seluruh
aula.
Cass melesat, sabitnya menebas dari belakang, meninggalkan jejak aura kematian yang
bergetar di udara. Tapi… sosok itu menahan sabit Soulrend hanya dengan satu tangan.
Getaran aneh merambat melalui gagang sabit Cass, membuat seluruh sistem sarafnya
menegang.
“Dia… menetralkan aura Soulrend-ku?” desis Cass dengan nada tidak percaya.
Eira muncul dari sisi kiri, rapiernya menyalakan mantra biru berbentuk spiral. “Pierce! Vortex
Point!”
TRANGGG!!!
Tusukan itu menembus besi dibelakang. Sosok itu sudah tidak ada di tempatnya.
“Must… stop… the loop…”
Suara itu muncul di belakang mereka. Dan dalam sekejap, Kael¿ meluncur maju, kedua
tangannya membentuk pola rumus bercahaya, simbol-simbol rumit berputar di sekelilingnya.
“Equation…: Calculation Collapse…”
WHOOOOOMMM!!!
Gelombang energi biru berbentuk jaringan geometri menyapu ruangan. Saat energi itu
melewati sosok bertopeng, udara bergetar keras. Waktu di sekitarnya seperti berhenti
sesaat, seolah realitas sendiri sedang diuraikan menjadi angka.
Namun…
ZZZRAAKK!!!
Sosok bertopeng itu memotong ruang itu begitu saja. Satu tebasan, dan seluruh rangkaian
sihir Oktagenos hancur, seperti kaca yang dipecah dari dalam.
Kael¿ terkejut, bukan karena tebasannya cepat, tapi karena hukum di sekitar sosok itu tidak
terpengaruh sama sekali.
“Heh? Kau tidak tunduk pada konstanta dunia ini? Menarik…”
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, lalu bicara pelan dengan nada seperti mesin
rusak:
“…Must… End…”
Velza menancapkan Dawnbringer ke tanah lagi, cahaya keemasan berdenyut kuat. “Aku
tidak peduli apa ‘loop’ yang kau maksud, tapi kalau kau mengincar Professor! Kau harus
melewati kami dulu!!”
Dawnflare terbuka lagi, kali ini bersamaan dengan aura hitam dari Soulrend yang
membentuk pusaran di sisi Cass.
Eira menyalakan lingkaran biru di belakang mereka, menggabungkan sihir air untuk
menahan efek korosi di sekitar.
Tiga kekuatan meledak bersamaan.
Cahaya suci. Aura kematian. Dan kekuatan dari Samudera.
Tapi sosok itu… tetap diam.
Lalu…
Ia mengangkat pedangnya ke atas.
GROOOOO…
Cahaya ungu pekat meluap dari pedang sosok bertopeng itu, membentuk pola geometris
yang berdenyut perlahan — tidak seperti sihir, tidak seperti kalkulasi, tapi… sesuatu yang
tak bisa dikategorikan.
Tiba-tiba, empat bayangan muncul di sekelilingnya.
Transparan. Identik.
Setiap satu bergerak dengan jeda sepersekian detik dari yang lain, seperti gema visual dari
dirinya sendiri.
Cass menatap itu dengan mata melebar. “…Klon temporal…?”
Tidak.
Kael¿ langsung menyadari hal itu.
“Bukan. Itu adalah proyeksi dari realitas lain. Menarik, dia bisa memanggil dirinya yg berada
di realitas maupun waktu yg berbeda heh”
Sebelum ada yang sempat bereaksi
ZRRRAAAAKKKK!!!
Empat sosok itu bergerak bersamaan, mengangkat pedang mereka. Satu tebasan saja, tapi
tebasan itu mengiris udara dan hukum ruang di sekitarnya.
Gelombang energi ungu gelap melesat, membelah serangan gabungan Velza, Cass, dan
Eira seperti kertas sobek.
Tebasan cahaya Dawnflare terbelah dua.
Tebasan energi Soulrend Cass buyar, seperti asap disapu badai.
Gelombang air Eira terpecah, berputar liar tanpa arah. Kael¿ Menahan tebasan it dengan
akar dari tubuh ilahi milik Oktagenos, membuatny aman dr serangan itu.
Tapi, tetap saja… Semuanya… lenyap.
Ledakan tekanan udara terjadi sesaat setelah itu
BOOOOMMMM!!!
Tiga orang itu terpental ke belakang, terhempas ke dinding akademi yang sudah rapuh.
Suara logam dan batu bercampur dengan raungan energi yang mengguncang seluruh
menara. Eira sempat memakai sihir airnya utk meredam benturan itu, tetapi ttp saja, mereka
bertiga terluka.
Cass menggertakkan giginya, darah emas menetes dari bibirnya. “Dia… menebas tiga
kekuatan berbeda dengan satu serangan?”
Velza berdiri lagi, menahan pedangnya. Dawnbringer retak di ujung bilahnya. “Tidak… ini
bukan sekadar serangan… kekuatannya meniadakan esensi sihir itu sendiri!”
Eira, dengan tangan bergetar, mendongak menatap sosok bertopeng itu. Cahaya ungu dari
empat kembarannya kini mulai menyatu ke tubuh aslinya, membentuk aura yang lebih padat
— semacam medan realitas yang menekan udara di sekitarnya.
Tak ada suara. Tak ada mantra. Hanya tekanan murni.
Kemudian, sosok itu mengayunkan pedangnya lagi. Kali ini, perlahan.
Tapi waktu di sekitar mereka melambat.
Mereka bisa melihat, tapi tidak sempat bergerak. Tebasan energi ungu itu meluncur,
membelah lantai dan udara sekaligus.
ZWWAAAAAAAKKK!!!
Namun…
Sebelum energi itu menyapu mereka bertiga, akar-akar raksasa dari tubuh ilahi Oktagenos
meledak dari lantai.
Bersinar biru terang.
Akar itu melilit ruang udara di depan mereka, membentuk dinding organik yang berdenyut,
seperti perisai hidup yang diisi kekuatan kosmik.
Tebasan energi ungu itu menghantam perisai tersebut.
Tapi bukan sekadar benturan.
Tetapi, benturan antara energi dari Kalkulasi, dengan energi yg asing, dan tak terdefinisikan.
Kreeeekkkk—KRRRRAAAAKKK!!!
Seluruh ruang bergetar keras.
Akar-akar itu menahan dengan putus asa, tapi perlahan terurai menjadi debu cahaya. Energi
ungu itu menembus lapisan demi lapisan, meninggalkan jejak kehancuran.
Oktagenos di dalam Kael¿ Terlihat senang.
“Haaa… Haaa…Haaa… Ahahahah! Setelah sekian lama… Ada yg bisa tak terlihat oleh
‘Kalkulasiku’”
Perisai akar terakhir pecah. Cahaya biru membelah langit-langit menara.
Debu cahaya jatuh seperti hujan bintang, menandai kehancuran total penghalang itu.
Cass berlutut, napasnya terengah. “Itu… bukan energi korosi… bukan sihir… bahkan bukan
hukum fisik…”
Velza menatap sosok bertopeng yang kini berdiri di tengah kabut ungu. “Kalau begitu, apa
dia…?”
Kael¿ menggenggam udara, memaksa simbol-simbol rumus baru terbentuk di sekelilingnya.
Cahaya biru kalkulasi menari liar, mencoba menangkap data dari sosok itu.
Namun hasilnya—
tidak ada.
Semuanya nihil. Nol.
“Tidak terdefinisi Heh?” ucap Kael¿. “Sesuai Kalkulasiku, kau memanglah Variabel Asing!”
Suara Kael¿ Menggema
Sosok bertopeng itu berjalan maju.
Langkahnya berat, tapi stabil. Setiap injakan kakinya meninggalkan retakan ungu di tanah,
seolah realitas tidak mampu menanggung eksistensinya.
Eira berusaha berdiri, menatap tajam meski tubuhnya gemetar karna terluka. “Kalau
begitu… Dia bukan dari sistem dunia ini…”
Cass menatap kosong.
“…berarti dia bukan bagian dari Loop.”
Udara tiba-tiba bergetar lagi. Sosok itu berhenti, lalu mengangkat pedangnya sejajar kepala.
Tanpa suara. Tanpa peringatan.
Hanya satu kalimat bergema dari balik topeng itu, lebih jelas dari sebelumnya—
“The cycle will end… even if reality breaks.”
Langit di atas Khalkam terbelah dua.
Cahaya ungu dan biru bercampur, membentuk pusaran besar di atas menara akademi,
seolah dunia itu sendiri mulai menolak keberadaan salah satu dari mereka.
WHUUUMMM…
Suara retakan dimensi terdengar samar di antara dentuman energi yang belum sepenuhnya
mereda. Pusaran ungu di langit menelan cahaya biru, menciptakan getaran yang membuat
seluruh menara berderak seperti hendak runtuh. Debu dan partikel realitas beterbangan,
menari di antara sisa benturan dua dunia.
Velza memandang sosok bertopeng yang kini perlahan menurunkan pedangnya, auranya
tetap mengerikan—tak ada jeda, tak ada kelemahan.
Ia tahu. Mereka tidak akan bisa menang.
“… Professor!!!.”
Nada Velza berat, tajam, dan penuh keputusan. “Kau bisa menahannya?”
Oktagenos, yang kini menguasai tubuh Kael menatap balik tanpa ekspresi. Cahaya biru di
sekeliling tubuhnya bergetar, menandakan tubuh itu hampir mencapai batasnya. “Heh…
Menahan sesuatu yang tidak tunduk pada hukum dunia ini?” gumamnya pelan, lalu
tersenyum samar. “Menarik juga untuk dicoba.”
Cass langsung bereaksi. “Velza, kau gila?! Kalau dia menahannya sendirian—”
“Kita semua akan mati kalau tetap di sini,” potong Velza cepat, suaranya menggema seperti
perintah ilahi. “Kau tahu, tempat ini sudah dikorosi. Kita tidak bisa bertarung di dunia yang
sudah runtuh dari dalam.”
Eira menggigit bibirnya, menatap medan ungu di atas mereka yang mulai melengkung
seperti cermin retak. “Kau benar… realitasnya mulai menolak eksistensi kita…”
Velza mengangkat Dawnbringer, menancapkannya sekali lagi ke lantai. Sisa cahaya suci
dari pedang itu membentuk lingkaran pelindung tipis di sekitar mereka bertiga.
“Professor, buatkan portal. Sekarang.”
Oktagenos mengangkat tangan, cahaya biru menyelimuti lengannya. Pola rumus bercahaya
muncul, berputar cepat, membentuk jaringan runik kompleks di udara.
“Coordinate: Escape vector… Destination: Axtaran Sikha…”
SRIIINGGGGG!!!
Energi di sekitarnya berubah. Ruang terlipat ke dalam dirinya sendiri, membentuk pusaran
spiral biru keperakan di tengah ruangan. Portal itu tidak stabil—dindingnya bergelombang,
seperti menahan tarikan dua realitas yang saling bertabrakan.
Namun sebelum mereka sempat melangkah masuk—
ZHHAAAAAAAAAA!!!
Sosok bertopeng itu menoleh. Hanya gerakan kecil. Tapi cukup untuk membuat seluruh
ruang bergetar. Retakan ungu muncul di sekelilingnya, menjalar seperti akar listrik yang
merusak segala hal yang disentuhnya.
Velza tahu mereka tidak punya waktu.
“PROFESSOR!! SEKARANG!!”
Oktagenos memejamkan mata. Tubuhnya memanas, simbol biru pada kulitnya menyala
terlalu terang untuk mata manusia.
“Equation Override: Dimensional Lockdown—”
BOOMMM!!
Seluruh lantai di bawah mereka hancur, akar-akar cahaya biru meledak ke segala arah,
menembus ruang seperti rantai raksasa. Akar itu melilit udara di sekitar sosok bertopeng,
memaku ruang di sekitarnya agar tidak bisa bergerak.
Sosok itu berhenti. Untuk pertama kalinya, gerakannya tertahan.
Namun hanya sesaat.
CRACK—CRACK!!!
Rantai cahaya itu mulai retak, tapi Velza tak menunggu. Ia berteriak, “PERGI SEKARANG!!”
Cass menarik Eira yang sudah kehabisan tenaga, tubuhnya limbung karena luka parah.
Mereka berdua berlari ke arah portal, diikuti Velza.
Oktagenos tetap berdiri di tempat, tubuhnya bergetar keras, darah bercahaya menetes dari
mata dan hidungnya.
“Hhh… Kau… bukan bagian dari hitunganku… tapi…” Ia tersenyum, gila dan kagum dalam
satu waktu. “…Aku akan menulis ulang konstanta untukmu, Variabel Asing.”
Sosok bertopeng itu memaksa maju, bilah pedangnya menembus lapisan realitas biru yang
menahannya. Suara dunia pecah kembali menggema.
Velza menoleh sekilas. “KAEL!! CEPAT!!!”
Oktagenos menggeram. “Tch… Portal, tutup otomatis!”
Ia melompat ke dalam pusaran tepat saat tebasan ungu gelap hampir memotongnya dua.
Dan di detik terakhir tadi.
WHUUMMM!!!
Portal itu menutup rapat. Energi ungu menghantam udara kosong, meledak dalam
dentuman besar yang menghancurkan setengah menara akademi.
Hening.

Beberapa detik kemudian…
WHOOOSSSS…
Udara di markas Axtaran Sikha masih bergetar samar, sisa distorsi portal belum
benar-benar lenyap. Aroma ozon bercampur debu memenuhi ruangan, dan hanya suara
napas tersengal yang terdengar di antara mereka berempat.
Velza menegakkan tubuhnya, masih memegang Dawnbringer yang kini retak di sisi
bilahnya. “Kita… selamat.” katanya pelan, tapi nada suaranya tidak menunjukkan rasa lega
sama sekali.
Cass menatap sekeliling, ekspresinya muram. “Untuk sekarang, mungkin.”
Namun sebelum mereka sempat melanjutkan, tubuh Kael¿ — yang tadi dikuasai Oktagenos
— mulai bergetar hebat. Cahaya biru di matanya berkedip tak beraturan, lalu meredup.
WHSSH!!
Cahaya kalkulasi itu padam sepenuhnya. Tubuh Kael terhuyung, menahan kepalanya sambil
meringis keras. “Aghhh!!”
Eira sontak bergerak maju, tapi Velza menahannya dengan satu tangan. “Jangan. Itu bukan
serangan luar. Itu… benturan internal.”
Kael terjatuh berlutut, mencengkeram lantai. Simbol-simbol biru di kulitnya menghilang satu
per satu, berganti urat manusia biasa. Dari mulutnya keluar embusan napas berat, disertai
darah tipis yang berpendar biru.
Beberapa detik kemudian—
Ia tertawa kecil. Serak. Lelah.
“Heh… Sial… aku masih hidup rupanya.”
Velza menatapnya lama.
“Professor…” katanya pelan.
Cass ikut mendekat. “Jadi sekarang… yang bicara ini benar-benar kau, bukan dia?”
Kael mengangkat kepalanya perlahan. Matanya, kini sepenuhnya kembali hitam normal,
menatap dua mantan muridnya itu.
“Ya… sekarang aku yang pegang kendali. Setidaknya untuk sementara.”
Ia menghembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan tangan bergetar.
“Sialan… tempat ini.” katanya lirih sambil menatap sekeliling markas. “Markas Axtaran
Sikha. Dari semua tempat yang bisa kalian pilih untuk menyelamatkanku… kenapa harus
tempat ini?”
Cass mengangkat alisnya, separuh sinis. “Karena Ashiira memerintahkan kami untuk
menyelamatkanmu Professor, kau kan ditakdirkan utk menjadi pemegang Kuasa ‘Kalkulasi’.”
Kael terkekeh pelan. “Heh… Ashiira sialan, aku lebih baik mati daripada harus bertemu
dengan dia. Persetan dgn garis takdir, kita gak tau takdir kita seperti apa”
Velza menyilangkan tangan. “Jangan salahkan kami, kami hanya menuruti perintah Ashiira,
selain itu, kau kan juga professor kami.”
Kael menatap Velza, matany terlihat kesal. “Aku tidak menyalahkanmu, Velza. Karna Ashiira
juga pemimpin kalian bukan, para Axtaran Sikha, sekarang satu2nya Demigod yg
memegang kuasa ilahi Cerces, Titan Romansa”
Hening sesaat. Hanya suara gemericik air dari pipa pendingin markas yang terdengar. Kael
masih memegangi kepalanya yg pusing.
Lalu Cass memecah keheningan. “Professor… kami butuh jawaban. Bagaimana bisa Titan
Kalkulasi, Oktagenos, mengambil alih tubuhmu?”
Tatapan Kael santai, tapi dia kek tertarik menjelaskan. Ia bersandar ke dinding batu,
menatap langit-langit rendah yang remang. “Aku yang membuatnya terjadi.” ujarnya singkat
padat
Velza memicingkan mata. “Kau apa?”
Kael menatap mereka bergantian. “Coreflame-nya. Inti asli Oktagenos. Aku menyatukannya
dengan diriku.”
Keheningan turun kembali, kali ini lebih berat.
Eira yang sejak tadi hanya mendengar menatap tak percaya. “Kau… menyatu dengan
Coreflame Titan? Tapi bukankah itu… bunuh diri.”
Kael tersenyum santai. “Ya. Aku tahu.”
Cass maju selangkah, wajahnya menunjukkan campuran marah dan bingung. “Tapi
kenapa?! Untuk apa menanggung risiko itu?”
Kael menarik napas dalam. “Karena aku ingin tahu… kebenaran dari dunia ini. Semua yang
selama ini disembunyikan oleh sistem, oleh para leluhur, bahkan oleh hukum realitas
sendiri.” Ujarnya percaya diri, kek dia bener2 nggak peduli soal hal itu
Keheningan kembali. Hanya napas berat mereka yang terdengar.
Lalu…
Suara berat, bergema seperti gema logam dari dalam tubuh Kael sendiri, tiba-tiba muncul.
Nada monoton, tapi penuh tekanan.
“Waktu hidup manusia dengan inti Titan di dalam tubuh: empat belas hari tersisa.”
Cahaya biru samar muncul di dada Kael, seperti simbol yang mencoba menulis ulang dirinya
sendiri.
Eira mundur spontan. “Itu… suaranya lagi!”
Kael memegangi dadanya, tapi tidak tampak terkejut. “Heh… Aku tahu.”
Velza melangkah mendekat, ekspresinya serius. “Empat belas hari? Maksudnya… kau akan
mati?”
Kael menatapnya lama, lalu mengangguk ringan. “Sudah kuperhitungkan sejak awal. Tidak
ada manusia yang bisa menahan Coreflame tanpa konsekuensi.”
Cass mengepalkan tangan. “Kau tahu dan tetap melakukannya?”
“Ya.” jawabnya singkat. “Aku tidak menyesal.”
Ia memejamkan mata, mengatur napas yang kini terdengar lebih berat. “Selama Oktagenos
mengambil alih, aku bisa melihat semuanya. Termasuk sosok itu… yang kalian lawan.”
Velza menatap tajam. “Sosok bertopeng itu?”
Kael membuka matanya, pandangannya gelap.
“Ya. Variabel Asing itu. Bahkan Oktagenos tidak bisa mengkalkulasinya.”
Cass menelan ludah. “Kalau Titan Kalkulasi saja tidak bisa mendefinisikan dia…”
Kael menatap mereka bertiga dengan tatapan yang tetap santai, dan bahkan tertarik.
“berarti dia benar-benar di luar realitas ini.”
Velza mengepalkan pedangnya. “Kalau begitu, Dunia ini… bukan hanya anomali temporal.”
Kael mengangguk pelan, wajahnya suram. “Bukan. Dunia adalah retakan eksistensi. Dan
Variabel Asing itu mungkin… penyebab, atau… hasilnya, atau suatu diluar keduanya…”
Suara Oktagenos bergema lagi dalam dada Kael, kali ini lebih lirih, lebih seperti bisikan dari
dalam dimensi lain.
“Kau tidak takut akan kematian? Wahai Axtaran Sikha?”
“Untuk apa takut akan kematian heh?” Sarkas Kael
Kael mengangkat pandangannya, menatap Velza, Cass, dan Eira.
“Dan sekarang” katanya pelan. “Kita tidak lagi berbicara tentang dunia, tapi tentang realitas
itu sendiri.”

Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

110FansSuka
1,153PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -