Our Mother, Our Home; itulah Bumi kita. Sering kali diibaratkan sebagai seorang ibu yang senantiasa merawat anak-anaknya: hewan, tumbuhan, dan tentu saja, manusia, sebuah spesies sangat unik. Begitu pintar dan cerdik hingga dapat membangun banyak peradaban di atas tanahnya. Tetapi, meski demikian, manusia ini aneh. Mereka merusak sosok ibu itu dengan seenaknya tanpa rasa bersalah.
Berdalih demi kemajuan dan kehidupan sejahtera, mamalia satu ini telah merusak rumahnya sendiri. Mereka membabat habis berhektare-hektare hutan, mengotori ratusan sungai dengan limbah, menggelapkan langit dengan asap polusi yang sebegitu banyaknya, bahkan memusnahkan ribuan spesies makhluk hidup yang hidup berdampingan dengan mereka.
Dampaknya terasa. Hari yang panas terasa semakin kentara. Udara lama-kelamaan menyesakkan untuk dihirup. Air bersih sulit ditemukan kecuali di pegunungan tinggi atau di bawah tanah sedalam-dalamnya. Suara kicauan burung yang dulu sering terdengar sekarang menjadi sunyi. Rumah kita berantakan.
Dan, yang paling tidak masuk akal, manusia memakai sebagian hasil eksploitasi tersebut untuk berperang melawan satu sama lain.
Namun, apa itu berarti mereka semua seperti itu? Oh, tentu saja tidak!
Kesadaran tentang hidup Bumi sudah ada semenjak nenek moyang kita menyemai padi-padi pertama. Hujan yang menurunkan keberkahan, aroma tanah yang mereka hirup, gunung-gunung asri yang mengeluarkan mata air jernih, suara deburan ombak laut yang mereka jelajahi; semuanya terabadikan dalam berbagai cerita rakyat, lagu-lagu tradisional, hingga senandung kecil saat menidurkan anak mereka. Mereka sudah paham betul bahwa Bumi yang mereka pijak itu hidup dan harus dijaga.
Maka ketika manusia tradisional bertransisi menjadi manusia modern, pemahaman mereka menjadi lebih terasah seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Mungkin dimulai dari beberapa orang, yang kemudian berkembang menjadi gerakan miliaran orang di seluruh dunia bahwa tanggung jawab Bumi ada di tangan mereka.
Pada tahun 1969, seorang aktivis perdamaian bernama John McConnell di dalam konferensi UNESCO di San Francisco, Amerika Serikat, mengajukan ide bahwa harus ada sebuah hari khusus untuk menghormati Bumi dan perdamaian, yang kemudian dilakukan pada hari pertama musim semi di belahan Bumi utara, yakni 21 Maret 1970. Hari ini kemudian disahkan dalam sebuah proklamasi yang ditulis oleh McConnell dan ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal U Thant di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sebulan kemudian, Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson mengusulkan gagasan untuk mengadakan pengajaran lingkungan hidup secara nasional pada tanggal 22 April 1970, dan mempekerjakan seorang aktivis muda, Denis Hayes, untuk menjadi koordinator nasional. Nama “Hari Bumi” diciptakan oleh penulis periklanan Julian Koenig. Hayes dan stafnya mengembangkan acara tersebut melampaui ide awal untuk melakukan pengajaran yang mencakup seluruh Amerika Serikat.
Walaupun Hari Bumi pertama difokuskan di Amerika Serikat, pada tahun 1990, Denis Hayes kembali mengadakan acara internasional dan menyelenggarakan acara di 141 negara, menjadikan hari itu benar-benar menjadi peringatan dunia. Kemudian, pada Hari Bumi 2016, Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, dan 120 negara lainnya menandatangani Perjanjian Paris. Penandatanganan ini memenuhi persyaratan utama untuk berlakunya rancangan perjanjian perlindungan iklim bersejarah yang diadopsi melalui konsensus 195 negara yang hadir pada Konferensi Perubahan Iklim PBB tahun 2015 di Paris.
Selanjutnya, banyak komunitas yang terlibat dalam “Aksi Pekan Hari Bumi”, kegiatan seminggu penuh yang berfokus pada masalah lingkungan yang dihadapi dunia. Pada Hari Bumi 2020, lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia memperingati 50 tahun peristiwa tersebut, yang kini merupakan peringatan sipil terbesar di dunia.
Nah, pada tahun ini (2026), Hari Bumi mengangkat tema “Our Power, Our Planet,” sebuah topik yang menyoroti dinamika pergeseran kehidupan manusia menuju energi baru terbarukan (renewable energy), akuntabilitas lingkungan, dan solusi iklim berbasis komunitas.
Judul ini bukan sekadar slogan cantik di poster digital, melainkan sebuah pengingat bahwa kekuatan untuk merehabilitasi kerusakan lingkungan dan ekosistem tidak lagi berada di tangan para pemimpin dunia lewat meja perundingan semata, melainkan ada pada setiap individu, komunitas, dan korporasi melalui sederet langkah kecil yang konsisten. Di negeri kita, pesan ini bergaung lebih keras di tengah isu energi ramah lingkungan, reduksi emisi karbon, dan cuaca ekstrem yang kini menjadi tantangan nyata yang harus kita hadapi.
Apakah berarti tantangan ini tidak ada lagi tantangan? Unfortunately, masih ada beberapa orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka mengulur waktu, bernegosiasi agar aksi-aksi krusial dimundurkan. Kata mereka teknologi ramah lingkungan mahal dan tidak efektif, tetapi sebenarnya mereka lebih mementingkan keuntungan semata dari usaha-usaha mereka.
Pada akhirnya, kita dihadapkan pada perlombaan melawan waktu dan titik balik iklim (tipping points), berupa kebutuhan akan resiliensi infrastruktur, bagaimana membangun wilayah yang tahan terhadap banjir dan kekeringan ekstrem, serta memastikan bahwa transisi menuju energi hijau tidak membebani rakyat kecil, melainkan menciptakan lapangan kerja baru yang layak.
Sekali lagi, Hari Bumi mengingatkan kita bahwa kita bukan penonton dalam kehancuran planet ini, melainkan aktor di dalamnya. Kekuatan kita ada pada setiap keputusan yang kita ambil dan pada setiap hal yang kita beli. Bumi tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup; ia akan terus berputar dengan atau tanpa manusia. Justru kitalah yang sesungguhnya membutuhkan Bumi yang sehat agar planet ini tetap layak menjadi tempat tinggal kita.
Penulis: Muhammad Syawwal Satriaji S.
Penyunting: Jawda Zahi Alghani