25.2 C
Yogyakarta
Senin, 1 Desember 2025
BerandaKabarKweek School on JPTB 25(Jambore Pelajar Teladan Bangsa)Tebarkan Dharma Bahagiakan Semesta

Kweek School on JPTB 25(Jambore Pelajar Teladan Bangsa)Tebarkan Dharma Bahagiakan Semesta

Mewakili Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, lima kader Muallimin terpilih menjadi peserta Jambore Pelajar Teladan Bangsa bersama dengan 100 pelajar terpilih dari berbagai provinsi di Indonesia. Jambore ini diadakan oleh Maarif Institute—sebuah yayasan yang didirikan oleh mantan Ketua Umum Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma’arif. Jambore kali ini terasa berbeda, yang biasa dilaksanakan di bulan Desember, kini dilaksanakan di pertengahan bulan November, tepatnya pada tanggal 17 sampai 21 November. Dengan dukungan penuh yang diberikan oleh madrasah, selama lima hari ini kami berlima (Kaizen, Aqil, Akbar, Mouldy, dan Althaf) menjalani kegiatan ini dengan penuh kesan dan pelajaran.

Diawali dengan keberangkatan kami berlima pada malam Ahad, lalu berpapasan dengan Ketua Umum MPKSDI Bachtiar Dwi Kurniawan bersama jajarannya yang ingin berangkat ke Bandung untuk mengikuti rangkaian Milad Muhammadiyah Ke-113 di Universitas Muhammadiyah Bandung. Sembari menunggu kedatangan kereta, beliau memberikan wejangan khasnya kepada kami kiranya dua kalimat yang mewakili perbincangan kami adalah: jadi kader Muhammadiyah itu, “Sedikit bicara, banyak berkarya.”

Tepat pada pukul 22.46, kereta Batavia tujuan Jakarta datang menandai awal perjalanan kami. Tak banyak hal yang kami lakukan selama perjalanan, selain istirahat menghemat energi untuk menjalani kegiatan di esok hari. Satu persatu kota kami lalui di tengah gelapnya malam, ditemani gemerlap lampu perkotaan dan dinginnya AC yang menyeruak di dalam gerbong kereta mengiringi perjalanan kami. Setelah sekian waktu yang kami lalui, matahari terbit menandakan tujuan kami semakin dekat, hingga pada pukul 06.46 terdengar pemberitahuan dari operator kereta, tujuan kami—Stasiun Jatinegara telah tiba.

Tanpa penjemputan hanya berbekal keberanian dan pengalaman, kami berlima memulai perjalanan ini. Balai Penjaminan Mutu Pendidikan menjadi tempat kami menjalani kegiatan selama lima hari kedepan. Bertemu dengan pelajar dari berbagai provinsi dari Sabang sampai Merauke bukanlah hal baru bagi kami, tapi kegiatan ini begitu spesial karena banyak pelajar dari lintas iman seperti Katolik, Kristen, bahkan Hindu. Sebuah pengalaman yang luar biasa, karena di Jambore ini kita tidak hanya belajar menghargai perbedaan tapi juga toleransi lintas iman. Sebagaimana sosok Buya Syafii Ma’arif, sebagai tokoh pluralisme beliau mensyaratkan untuk hidup berdampingan antar umat beragama, terlebih dalam merawat gagasan untuk kemajuan bangsa. Hal Ini menunjukkan bahwa kader Mu’allimin perlu menjadi sosok yang Inklusif untuk menguatkan jejaring dalam rangka meluaskan gagasan dan pemikiran.

Bersama 100 pelajar terpilih dari seluruh provinsi di Indonesia, kami bersinergi dan berkolaborasi di setiap sesi yang ada. Terdapat empat isu yang menjadi pokok pembahasan kami di Jambore kali ini, yaitu perundingan, kerusakan lingkungan, intoleransi, dan kekerasan seksual yang terbagi menjadi sepuluh kelompok. Melalui penjelasan langsung dari para ahli seperti Winner Jihad Akbar, S.Si., M.Ak (Direktur SMA, Ditjen PAUD Dasmen, Kemendikdasmen), Dr. Diyah Puspitarini, S.Pd., M.Pd (Komisioner KPAI), Rusprita Putri Utami, SE., MA. (Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen), Andar Nubowo, DEA., Ph.D (Direktur Eksekutif MAARIF Institute), Halili Hasan, MA (Direktur Eksekutif SETARA Institute), Yosephine Dian Indraswari (Universitas Paramadina), Ahsan Jamet Hamidi (Eco Bhinneka Muhammadiyah), Dr. Fajar Riza Ul Haq, MA. (Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah).

Gaya diskusi terbuka membuat penyampaian materi menjadi lebih interaktif dan aplikatif, dan mendorong para peserta untuk aktif di setiap sesi. Setelah penyampaian materi dan diskusi selesai, kami diminta untuk membuat proyek melalui poster digital dan video kreatif sesuai dengan fokus isu yang kami pilih, dan nantinya akan di presentasikan di depan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada hari keempat kami menjalani kunjungan di Kemendikdasmen, dan sebuah kebanggaan ketika salah satu dari kami menjadi perwakilan untuk berbicara dan menyampaikan keresahan kami. Tentu ini menjadi pengalaman berharga karena kami menjadi salah satu dari pelopor perubahan sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Dr. Fajar Riza Ul Haq, MA. dalam sesi NGAJAR “Ngobrol Bareng Wamen Fajar”. Sesi ini berlangsung cukup singkat, tapi apa yang kami dapat membawa semangat untuk berkontribusi dalam memberantas permasalahan pelajar di Indonesia. Momen unik kami dapati pada saat malam budaya dimana para peserta menggunakan pakaian adat khas, serta menampilkan tarian dan bahasa khas daerahnya masing-masing

Jambore ini tidak hanya sebagai tempat bertemunya 100 pelajar dari berbagai provinsi, tapi juga cerita dan pemikiran serta keresahannya pada permasalahan negeri ini. Melalui kegiatan ini kami belajar bahwa perbedaan itu menguatkan bukan memecah belah, sebagai penutup kami mengutip salah satu perkataan Buya Syafii “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perbedaan sebagai rahmat”. Lima hari, waktu yang begitu singkat tapi ia meninggalkan kesan dan pelajaran yang tak akan pernah kami lupakan. – Terima kasih kepada Pimpinan madrasah yang telah memberikan support dan fasilitas, sehingga kami bisa menjalani kegiatan ini dengan lancar.

Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya
Kiriman Sebelumnya

Ikuti KweeksNews!

110FansSuka
1,153PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -