24.1 C
Yogyakarta
Jumat, 23 Januari 2026
BerandaArtikelCircle: esensi pertemanan yang terlupakan

Circle: esensi pertemanan yang terlupakan

Pesantren sering disebut tempat belajar hidup bersama. Kita tinggal satu atap, bangun dengan suara yang sama, dan capek di jadwal yang hampir seragam. Secara fisik, kita dekat. Tapi secara sosial, nggak selalu begitu. Ada yang punya lingkaran pertemanan yang kuat, ke mana-mana bareng, saling back-up. Ada juga yang keberadaannya cuma “ada”, tanpa benar-benar dirangkul. Circle akhirnya jadi semacam peta tak tertulis: siapa yang punya tempat, dan siapa yang cuma numpang lewat dalam keramaian.

Dalam jangka pendek, dampaknya terasa pelan tapi nyata. Santri yang nggak masuk circle tertentu sering ketinggalan informasi, jarang diajak diskusi, atau sekadar dianggap pelengkap. Bukan karena mereka nggak mampu atau nggak niat, tapi karena sistem pergaulan sudah terbentuk duluan. Lama-lama, mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan cara yang paling aman: diam, nggak banyak berharap, dan nggak terlalu menonjol. Di titik ini, pesantren tanpa sadar ikut membentuk santri yang bertahan hidup, bukan santri yang bertumbuh.

Yang jarang disadari, circle juga memengaruhi cara berpikir kita ke depannya. Dalam jangka panjang, santri terbiasa menilai orang dari kedekatan kelompok, bukan dari akhlak dan kontribusinya. Kita jadi nyaman berada di lingkaran sendiri dan agak kaku ketika harus berhadapan dengan yang berbeda. Padahal, dunia setelah pesantren jauh lebih luas dan rumit. Kalau di lingkungan yang seragam saja kita masih suka membuat sekat, ada kemungkinan kita akan kesulitan menjadi pribadi yang inklusif di tengah masyarakat yang majemuk.

Masalahnya, semua ini sering dibungkus dengan kalimat “namanya juga berteman, pasti pilih-pilih”. Memang benar, manusia butuh teman dekat. Tapi pesantren seharusnya tidak berhenti mengajarkan kedekatan, melainkan juga kepedulian. Circle tidak salah, yang bermasalah adalah ketika circle berubah menjadi tembok. Ketika rasa nyaman sebagian orang dibayar dengan rasa tersisih orang lain, di situlah nilai kebersamaan mulai kehilangan maknanya.

Mungkin kita tidak bisa memaksa semua orang berteman dengan semua orang. Tapi kita selalu bisa memilih untuk lebih peka. Bertanya kabar, membuka obrolan, atau sekadar tidak membuat orang merasa sendirian. Karena sejatinya, pesantren bukan cuma tempat mencetak santri yang kuat secara ilmu, tapi juga manusia yang hadir sepenuhnya untuk manusia lain. Dan itu sering kali dimulai dari hal kecil: berani keluar sedikit dari circle kita sendiri.

Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

110FansSuka
1,153PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -