26.2 C
Yogyakarta
Sabtu, 28 Februari 2026
BerandaCerpenNanti Aja

Nanti Aja

Namaku Riffat. Aku bukan tipe santri yang selalu sigap ke masjid. Datang, iya. Tepat waktu, belum tentu. Kadang masih rebahan di kasur asrama sambil berpikir, “nanti aja, belum juga iqamah.”

Masjid ada di dekat kami, hanya beberapa langkah saja. Tapi mungkin hati ini yang keras.

Masalahnya mulai dari tugas kelompok.

“Aman, kan?”

“Aman, Rif. Nanti kita kerjain bareng.”

“Deadline masih lama juga, lagian.”

Aku mengerjakan bagianku. Mereka? Santai saja. Hari berganti, hasil masih segitu-gitu saja.

“Lu udah ngerjain apa?” tanyaku.

“Tenang, bro.”

“Tenang gimana? Ini tinggal dikumpulin.”

“Ya santai aja, kita kan butuh refreshing juga.”

Aku diam. Lalu,

“Seharusnya gue yang butuh refreshing karena gue yang ngerjain. Lah kalian?”

“Lah, kok emosi?”

“Karena gue capek sendiri!”

“Ya udah, kalau gitu kerjain aja sendiri.”

Aku berdiri.

“Ya sudah!”

Aku pun pergi. Tidak tahu mau ke mana, yang penting pergi saja. Tidak mikir apa-apa. Kaki jalan sendiri, dan tiba-tiba aku sudah di masjid.

Masjid lagi sepi. Aku duduk di saf belakang, bersandar di tiang. Niat awalnya cuma pengin diam. Tidak salat sunah, tidak zikir panjang. Cuma duduk.

Setelah beberapa menit, aku merasa bosan. Aku pun mengambil mushaf. Kubuka halaman secara acak. Baca pelan. Berhenti. Lanjut lagi. Tidak mengejar khatam. Tidak mengejar pahala besar. Cuma membaca.

Dan entah sejak kapan, aku merasa, “kok enak, ya?”

Besoknya aku ke sana lagi. Tidak lama, cuma sebentar. Hari berikutnya, lagi. Kadang habis Isya. Kadang sebelum Subuh. Kadang cuma duduk sambil melihat orang lalu-lalang.

Masalah kelompok itu belum langsung selesai. Aku juga belum berubah jadi santri paling rajin. Masih malas. Masih pernah berpikir, “nanti aja.”

Tapi sekarang, tiap kepikiran buat rebahan terus, aku ingat satu tempat. Tempat yang tidak nanya aku siapa, tidak nyuruh aku sok kuat, cuma menerima aku apa adanya walaupun diriku sendiri saja tidak terlalu menghargainya.

Masjid ini, yang dulunya buatku cuma tempat salat lima waktu, sekarang jadi tempat pulang sebentar. Buat menenangkan diri.

Dan mungkin, rajin itu tidak selalu soal datang paling awal. Cukup bangkit dari kasur, jalan sedikit, dan hadir sepenuhnya. Itu saja sudah cukup.

Penulis: Pratama Aria Wardhana
Penyunting: Jawda Zahi Alghani
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

109FansSuka
339PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -