Jalan Tunjungan, Ikon Kota Surabaya yang Tak Pernah Tidur
Jalan Tunjungan merupakan salah satu ikon Kota Surabaya yang hingga kini tetap menyuguhkan pesona yang tak pernah lekang oleh waktu. Baik pada siang maupun malam hari, kawasan ini selalu menawarkan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung. Pada siang hari, suasana klasik Jalan Tunjungan terasa kuat melalui deretan bangunan kolonial yang megah dan bersejarah. Pengunjung dapat menikmati suasana yang relatif tenang sambil berjalan kaki, mengamati detail arsitektur khas Belanda yang masih terjaga hingga saat ini.
Memasuki sore hingga malam hari, wajah Jalan Tunjungan mulai berubah. Kawasan ini perlahan menjelma menjadi pusat keramaian kota. Lampu-lampu hias dinyalakan, menerangi bangunan-bangunan tua dan menghadirkan nuansa hangat yang semakin menonjolkan keindahan arsitektur lama. Berbagai pertunjukan seni jalanan, musik live, serta aktivitas komunitas turut memeriahkan suasana. Di sepanjang jalan, beragam kuliner khas Surabaya hingga hidangan modern dapat ditemui, melengkapi pengalaman pengunjung yang datang untuk sekadar berjalan-jalan maupun menikmati malam.
Beberapa dekade lalu, kondisi Jalan Tunjungan tidak seramai sekarang. Kawasan ini sempat terlihat sepi dan kehilangan daya tariknya. Banyak bangunan tua tertutup papan reklame berbagai usaha, baik yang masih berjalan maupun yang telah berhenti beroperasi. Situasi tersebut mendorong pemerintah kota untuk melakukan langkah penataan ulang. Pada tahun 2016, revitalisasi kawasan Jalan Tunjungan mulai dilakukan sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan ini sebagai ikon Kota Surabaya. Gagasan tersebut digagas sejak masa kepemimpinan Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, yang menginginkan wajah bangunan pertokoan dan pusat bisnis di Jalan Tunjungan dikembalikan mendekati bentuk aslinya.
Hasil dari revitalisasi tersebut mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Bangunan-bangunan tua yang sebelumnya kosong atau terbengkalai kini mengalami perubahan fungsi. Banyak di antaranya dimanfaatkan sebagai kafe, restoran, dan ruang berkumpul yang diminati generasi muda. Beragam jenis usaha tumbuh dan berkembang, menghidupkan kembali kawasan yang dulunya redup. Aktivitas di Jalan Tunjungan justru semakin ramai ketika malam semakin larut, seolah kehidupan di kawasan ini tidak pernah benar-benar berhenti.
Kini, Jalan Tunjungan tidak hanya berfungsi sebagai pusat perbelanjaan dan hiburan, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kota Surabaya. Perpaduan antara pesona masa lalu dan sentuhan modernitas menjadikan Jalan Tunjungan sebagai destinasi wisata yang terus menarik minat pengunjung, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan ini menjadi bukti bahwa ruang kota bersejarah dapat tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Penulis: Fairuz Fawwazul Akmal
penyunting: Jawda Zahi Alghani