Suasana damai tahun baru kembali terusik dengan serangan berskala besar militer Amerika Serikat ke beberapa instalasi militer Venezuela pada Sabtu (3/1/2026). Rentetan penyerangan udara dan ledakan dapat terdengar di ibu kota Caracas serta beberapa wilayah lainnya seperti Miranda, La Guaira, dan Aragua. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa operasi ini telah “berhasil” dengan tertangkapnya Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian dibawa keluar dari negara itu untuk menghadapi dakwaan di AS.
Pemerintah Venezuela mengutuk tindakan ini sebagai “agresi militer”, pelanggaran hukum internasional, dan “peperangan kolonial” terhadap republik Venezuela. Sebelum nya, Maduro bahkan telah mendeklarasikan keadaan darurat nasional dan menyerukan mobilisasi rakyat.
Wilayah Amerika Latin, yang notabene merupakan wilayah paling “damai” di politik global terguncang dengan agresi ini.
Namun, sebenarnya, apa sih yang menjadi penyebab AS melakukan First Strike ke negara tersebut?
Dilansir dari berbagai media, penyerangan ini merupakan serentetan peristiwa yang dimulai sejak memanasnya daerah tersebut sejak pertengahan 2025.
Beberapa kapal berbendera Venezuela serta beberapa fasilitas bongkar muat narkoba yang terletak di wilayah negara kaya minyak tersebut diserang oleh Angkatan Laut AS disekitar laut Karibia dan Pasifik. Trump berdalih bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari perang melawan narkoba.
Presiden Trump kemudian memberikan sejumlah sanksi ekonomi terhadap sektor minyak dan perusahaan Venezuela.
Kedekatan Iran dan Venezuela di sektor energi juga menjadi latar ketegangan. Pada Desember 2025, kurang dari sebulan sebelum serangan AS ke Venezuela, Washington menyita sebuah tanker bermuatan minyak Venezuela di lepas pantai Venezuela.
Pemerintahan Venezuela juga tidak luput dari penyebab penyerangan ini. Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang telah menjabat sejak 2013 dituduh melakukan kecurangan dalam pemilu dan, dalam istilah Trump, “melanggar demokrasi.” Rezim Maduro juga dianggap terhubung dengan jaringan narkotika internasional dengan menjadikan Venezuela sebagai basis pengiriman narkoba ke AS. Bahkan, sebelumnya Trump menjanjikan hadiah sebesar US$50 juta atau setara Rp649 miliar bagi siapapun yang memberi petunjuk agar pasukan AS dapat menangkap Maduro.
Akhirnya konflik ini memuncak menjadi serangan besar-besaran pada Sabtu pertama tahun 2026.
Apa yang kemudian terjadi selanjutnya?
Dari Venezuela sendiri, pemerintahannya mengutuk serangan itu sebagai agresi militer, pelanggaran kedaulatan, dan bentuk “peperangan kolonial.” mereka meminta agar komunitas internasional dan PBB untuk mengutuk tindakan AS dan ikut melindungi hak kedaulatan negara tersebut. Seruan ini didukung oleh Rusia yang ingin mencegah eskalasi lebih lanjut dan fokus pada upaya mencari jalan keluar melalui dialog.
Beberapa negara memberikan kecaman dan kekhawatiran akan ketegangan politik pada wilayah yang relatif stabil tersebut. Sebagian seperti Kuba dan Iran mengecam keras tindakan AS itu. Kolombia, negara jiran Venezuela menolak aksi milter sepihak yang dilakukan oleh AS.
Negara-negara Eropa seperti Spanyol telah menyatakan kekhawatirannya serta menyatakan bersedia untuk segera melakukan mediasi.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia mengatakan terus memantau perkembangan situasi di Venezuela, khususnya untuk memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang berada di negara tersebut.
Dari perkembangan ini, banyak pemerhati internasional yang bertanya akan legalitas serangan tanpa mandat PBB atau persetujuan Venezuela. Terutama dengan meningkatnya ketegangan diplomatik dengan negara-negara Amerika Latin, dan risiko konflik yang lebih luas tidak bisa diabaikan, serangan ini menjadi sebuah tanda tanya akan kebijakan AS dan lebih khususnya administrasi Trump dengan perkembangan politik global.
Terakhir, penyerangan ini dapat memicu konflik yang lebih luas lagi. Ledakan, penahanan pemimpin negara, dan perlawanan militer bisa memperburuk situasi ekonomi dan sosial Venezuela yang tengah mengalami inflasi besar-besaran, resesi, serta peningkatan kriminalitas dan kartel di wilayahnya.
Penulis: Muhammad Syawwal Satriaji S.
penyunting: Jawda Zahi Alghani