28.9 C
Yogyakarta
Jumat, 29 Agustus 2025
BerandaArtikelDari Sindurejan hingga Wirobrajan

Dari Sindurejan hingga Wirobrajan

Sebagai warga Indonesia, pastinya sudah tak lagi asing dengan es campur. Yup, es campur ialah salah satu minuman khas Indonesia yang cukup terkenal, sehingga banyak masyarakat Indonesia yang menggemari minuman tersebut, terutama anak sekolah.

Saking terkenalnya, es campur sangat mudah untuk ditemukan, apalagi di pinggiran jalan yang biasanya dijual oleh pedagang kaki lima (PKL). Bahkan, tak jarang beberapa restoran sudah menjadikannya sebagai menu di restoran mereka. Pada artikel kali ini, penulis ingin menceritakan mengenai perjalanan salah satu penjual es campur yang berada di depan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. 

Di kalangan warga Mu’allimin, tentunya sudah sangat kenal dengan es campur yang berada di depan madrasah, karena keramahan sikapnya terhadap pembeli. Es Campur Bu Joko, atau yang biasa disebut Es Buah Madrasah ternyata sudah berdiri kurang lebih 15 tahun lamanya.

Memiliki nama asli Sufiyati, beliau adalah satu-satunya pedagang es campur dan es buah yang begitu terkenal, entah itu di kalangan para ustad ataupun di kalangan para santri dan alumni. Beliau juga salah satu warga asli Jogja yang saat ini tinggal di Sindurejan. Lalu, bagaimanakah lika-liku beliau sebagai pedagang es campur?

Saat hembusan angin yang begitu kencang menerpa kota Jogja, di panasnya siang Ahad kala itu. Diutuslah salah seorang reporter sekaligus penulis untuk menguak bagaimana perjalanan Bu Sufiyati sebagai penjual es campur depan Madrasah Mu’allimin.

“Awalnya, sebelum Ibu jualan di depan Mu’allimin, Ibu pernah jualan di mana aja?” tanya penulis.

“Kalo sebelum di Mu’allimin, ya? Pertama kali itu di depan rumah, di Sindurejan itu. Habis itu, Ibu pindahlah ke depan sini (Mu’allimin). Waktu itu, tahun 2009, kalo gak salah,” jawab Bu Sufiyati pada penulis.

Kemudian, penulis pun penasaran bagaimana cara pedagang es campur tersebut mempersiapkan segala macam bahan dagangnya, sebelum dibawa ke Mu’allimin.

“Nah, biasanya Ibu sendiri mulai jualan jam berapa? Dan, gimana cara Ibu menyiapkan bahan dagangan ini, seperti dawet, camcau, cincau?” tanyanya lagi, sambil menunjuk ke arah bahan jualan.

“Biasanya, jam setengah 10 itu sudah mulai berangkat dari rumah. Dan, bahan-bahannya itu, saya beli dari pasar Subuh. Jadi, sehabis salat Subuh saya sudah ke pasar buat beli bahan-bahannya. Kecuali, sirup. Sirup itu udah saya siapkan sejak sore, nah setelah siap, baru paginya saya angkut bareng dengan bahan-bahan yang lain,” ucap beliau dengan antusias.

Seiring berjalannya waktu, sambil menikmati obrolan singkat dengan es camcau yang dihidangkan Bu Sufiyati kepada penulis, penulis pun melanjutkan wawancaranya.

“Selama kurang lebih 15 tahun Ibu berjualan di depan sini. Apa saja lika-liku yang Ibu hadapi, suka dan duka yang Ibu rasakan?”

“Kalo ditanya lika-liku, pasti ada. Suka dan duka, jelas ada. Yaa, sukanya sih, Ibu kan orangnya senangan. Jadi, kalo dagangan laris atau engga, Ibu tetap senang, bersyukur teruslah. Soalnya kan udah ada yang mengatur rezeki. Selain itu, waktu ada anak Mu’allimin yang sudah lulus, sudah kerja terus main ke sini, itu Ibu senang banget,” ungkapnya pada penulis. 

“Sedangkan, sedihnya. Misal ada anak-anak Mu’allimin pada nakal, nah itu yang paling Ibu sedih. Nakalnya itu, kalo dulu ada yang lompat pagar, terus pergi main PS, lari-lari padahal masih jam pelajaran. Kalo sekarang, nakalnya itu udah beda, udah pada main game. Tapi, tetap aja Ibu sedih kalo anak Mu’allimin masih ada yang kayak gitu,” tambahnya lagi.

Tak terasa saat beliau mengungkapkan rasa sedihnya pada penulis, Bu Sufiyati meneteskan air matanya, secara tidak langsung membuat si penulis dapat merasakan bagaimana kuatnya jiwa keibuan yang beliau miliki. Saat penulis bertanya pada beliau, tentang hal paling berkesan yang beliau miliki, beliau menjawab.

“Waktu itu, ada anak yang datang ke sini, terus bawa anak dan istrinya, terus beli lagi, terus nanya, ‘Eh, Ibu masih jualan ya Buu?’ wah itu jadi senang banget sih,” ujar Beliau sambil tertawa. “Pokoknya, waktu dikunjungi anak Mu’allimin yang sudah sukses, terus main lagi ke sini. Itu paling berkesan banget sih,” tambah beliau lagi.

Penulis pun tiba-tiba iseng bertanya pada Bu Sufiyati, “berarti anak Mu’allimin beragam baget ya, Bu?”

“Oh. iya. Beragam banget pokoknya, ada yang benar-benar pintar, akhirnya sekarang sudah jadi orang sukses. Tapi ada juga yang dulunya nakal banget, eh sekarang udah jadi PNS. Dia tuh cuman bawa satu buku, terus diselipin di baju, taunya sering dapat ranking, ‘ini anaknya kapan belajar?’ ya saya juga heran gitu.” Beliau heran bagaimana cara anak tersebut jadi pintar.

Ternyata benar apa yang dirasakan si penulis, bagaimana kuatnya jiwa keibuan yang dimiliki beliau. Saat dirasa sudah cukup, sebelum penulis bangkit dari kursi dan membayar minuman yang telah dihidangkan oleh beliau, penulis meminta Bu Sufiyati untuk memberikan pesan pada anak Mu’allimin.

“Disuruh sekolah jauh-jauh, taatilah peraturannya. Bagaimana nanti perasaan orang tuanya kalo tau anaknya suka melanggar aturan. Itu aja sih.”

Pada akhirnya, penulis pun meninggalkan Es Campur Bu Joko dengan perasaan yang hangat. Sebab, ia merasakan bagaimana kuatnya perasaan yang dimiliki Bu Sufiyati pada anak-anak Mu’allimin. Penulis juga sangat senang saat mengetahui Bu Sufiyati secara tak langsung menyaksikan tumbuhnya Mu’allimin dari tahun ke tahun dan bagaimana Mu’allimin menciptakan kader-kader terbaiknya.

Sebelum artikel ini diakhiri, jika sobat Kweeks penasaran dengan lezatnya es campur, es camcau, es dawet, es buah, es cincau buatannya Bu Sufiyati. Maka, datanglah ke Es Campur Bu Joko yang berada di depan Kampus Induk Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, di S. Parman.

Oleh: Khalish Zeinadin
Editor: Khalish Zeinadin
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

107FansSuka
1,153PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -