Lembaga Pers Mu’allimin, Yogyakarta — Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta merupakan sekolah tingkat menengah yang berada dibawah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertujuan untuk mencetak kader, ulama, pemimpin, dan pendidik. Sebagai sekolah pemimpin, bukan hanya kegiatan belajar mengajar saja yang ada di Mu’allimin, akan tetapi ada juga proses perkaderan untuk membentuk karakter, prinsip, dan sifat para santri di Mu’allimin.
Fortasi atau Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa, merupakan salah satu proses perkaderan di Mu’allimin yang bertujuan untuk mengenalkan kepada para santri baru akan lingkungan dan budaya di madrasah Mu’allimin. Fortasi ini dipanitiai oleh kader tingkat 5.
Pembukaan Fortasi diadakan pada hari senin (8-7-2024) ketika matahari sudah berada tepat diatas. Acara pembukaan Fortasi ini dilaksanakan di lapangan tengah madrasah Mu’allimin. Acara pembukaan fortasi di mulai dengan pembukaan, kemudian kalam ilahi yang dibacakan oleh Jamil Shalih kader tingkat 5, menyanyikan lagu, sambutan, pembukaan simbolik, penampilan seni Tapak Suci dari kader tingkat 5, dan ditutup oleh penutupan. Sambutan disampaikan oleh kak Ghatfan Mubarak selaku ketua fortasi, kak Faatih Fadhlurahman selaku ketua Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah Muallimin (PR IPM Muallimin), kak Naufal Labiba selaku ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PW IPM DIY), dan sembutan terakhir oleh Ustadz Aly Aulia LC M.Hum selaku direktur madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.



Pada Fortasi tahun ini panitia mengangkat tema “Wujudkan jiwa kesatria dalam perkaderan, teguhkan tonggak kepemimpinan sebagai warisan, berperilaku pejuang dalam tindakan”. Kak Ghatfan Mubarak sebagai ketua Fortasi menyampaikan bahwa dalam tema ini berisi harapan dari para panitia Fortasi agar para peserta selalu memberikan nilai positif bagi lingkungan sekitar.
Fortasi ini adalah proses perkaderan di Mu’allimin yang wajib diikuti oleh seluruh santri baru Mu’allimin. Didalam sambutan ketua PW IPM, kak Naufal Labiba menyampaikan bahwa “fortasi ini bentuk umum nya adalah pengenalan tentang Mu’allimin akan apa yang harus dipelajari, dan apa yang didapatkan di Mu’allimin”. Beliau juga menambahkan “selain itu akan dikenalkan juga akan cultural seperti adab atau sopan santun, budaya, dan sebagainya”.
Fortasi ini bukan hanya sebagai bentuk perkenalan akan Mu’allimin kepada santri baru, akan tetapi juga sebagai wadah para santri baru untuk membuka relasi dengan teman-teman satu angkatannya, sehingga timbulnya kecintaan. Ustadz Ali Aulia berpesan di dalam sambutannya “fortasi ini adalah wadah untuk saling mengenal, agar tumbuh rasa kecintaan”. Dari tumbuhnya rasa kecintaan terhadap sesama maka akan semakin berkurang kasus bully yang marak terjadi di sekolah.
Oleh: Mazaya Abdillah Iskandar
Editor: Mazaya Abdillah Iskandar