29.1 C
Yogyakarta
Senin, 15 April 2024
BerandaArtikelMengisi Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai Pelajar

Mengisi Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai Pelajar

Pelajar, menurut saya pribadi, adalah ketika seseorang mengikuti atau mengalami suatu proses pendidikan dan pelajaran baik formal maupun informal. Secara luas, pelajar adalah mereka yang melakukan konsep belajar “yang awalnya tidak tahu menjadi tahu”. Secara sempit, pelajar ialah yang berada di bangku sekolah.

Mengapa mereka disebut dengan “pelajar”? Karena mereka melalui metode pembelajaran masing-masing instansi atau lembaga, baik formal maupun informal. Harapannya mereka bisa berkembang dalam sisi emosional, sosial, karakter, keyakinan, bahasa, dan intelektual, yang mana dengan segala pengembangan potensi diri itu, diarahkan ke arah yang positif, guna memajukan bangsa dan negara kita.

Sementara pada topik yang di angkat ialah “bagaimana cara mengisi kemerdekaan RI sebagai seorang pelajar”, kita mengamini bahwa definisi merdeka itu luas dan memiliki banyak sisi makna di dalamnya. Dalam KBBI, makna merdeka ialah; bebas, berdiri sendiri, dan tak ada tuntutan. Sejalan dengan itu, saya sendiri sebagai sosok pelajar menginterpretasikan makna bangsa yang merdeka ialah bangsa yang memiliki kesejahteraan di setiap kalangannya. Yakni dalam cakupan sisi ekonomi, kesehatan, keamanan, perkembangan, hak rakyat yang dipenuhi secara adil oleh negara, serta banyak lagi.

Peran yang diambil di sini adalah menjadi pemuda pelajar, yang mana hal itu adalah satu bagian dari sekian juta pemuda yang berposisi sebagai generasi di mana kita memiliki potensi terhadap kemajuan bangsa. Lalu apa peran nyata kita sebagai generasi yang mengisi kemerdekaan RI? Berlandaskan opini di awal tadi, di mana kita mengembangkan potensi diri di berbagai bidang guna meraih daya saing global, seperti:

Pertama di bidang ekonomi. Kita sebagai pelajar sudah dengan seharusnya menjadikan bangku pendidikan yang kita tempati sebagai tangga pertama kita untuk menoreh warna pada bangsa di segi ekonomi umum. Para mahasiswa adalah 35% dari pemuda, yang di seusianya bisa menempati bangku kuliah, dan sudah sewajarnya kita menjadi harapan bangsa yang ditunggu pergerakannya yang ditunggu aksi nyatanya.

Selain untuk aktif dalam kelas selayaknya generasi emas, kita harus produktif serta berprestasi di bidang yang kita mumpuni. Harapannya kita pun memiliki gambaran cerah masa depan diri sendiri. Dengan gambaran yang cerah/tujuan yang pasti, serta untuk konsisten terhadap apa yang kita jajaki, kita dapat mengurangi angka pengangguran. Yaitu dengan cara kita yang minimal sudah sarjana, sudah memiliki lapangan pekerjaan atau bahkan membuka lapangan pekerjaan dengan bermodal pengetahuan serta pengalaman yang kita tabung.

Berprinsip pada “Empat Pilar Pendidikan” yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together, sudah menjadi struktur perjalanan kita untuk menyusun kehidupan kita di masa mendatang, yang mana nantinya untuk memenuhi definisi “mengisi kemerdekaan Republik Indonesia”. Dengan begitu banyak harapan yang menuju kepada kita bahwa nantinya kita dapat meminimalisir kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan pengangguran. Karena kita berpotensi mampu menguasai dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kedua, yakni di bidang kesehatan dan keamanan serta kenyamanan. Sudah menjadi catatan penting bagi kita untuk selalu menjaga arti penting kebersihan, ditambah lagi dengan adanya sejarah baru di dunia kesehatan di tahun ini. Dan peran kita sebagai pelajar sudah seharusnya take action terhadap efek pandemi ini. Banyak kuasa yang kita miliki terkait kondisi ini seperti; menjadi relawan, sosialisasi pencegahan, membuka lahan donasi bagi yang membutuhkan, dan banyak lagi. Juga disamping itu tak sedikit perkumpulan yang membuka pendaftaran sebagai volunteer saat ini. Maka tak menjadi alasan dong bagi kita untuk tidak memiliki aksi nyata di tengah pandemi, paling tidak kita memanage diri sendiri untuk beradaptasi atas keadaan yang belum saja normal ini. Maka sekali lagi tak ada alasan untuk berucap “ah kita hanya disuruh belajar (secara sempit)”.

Pada segi perbedaan, kita juga mendapati tantangan bahwa kita harus menghadapi suatu perbedaan. “…Kami telah menjadikan kalian berbangsa bangsa dan bersuku suku agar kalian saling mengenal…” (Q.S. Al-Hujurat:13) yang menjelaskan bahwa dasarnya kita memang memiliki ciri khas tersendiri, memiliki keunikan tersendiri, dan tentunya untuk saling melengkapi. Berlatarbelakang perbedaan inilah yang harus kita cermati bahwa kita sebagai pemuda harus memiliki sikap persatuan dan kesatuan serta saling menghargai satu dengan lainnya sebagai wujud aksi kita dalam menjaga kenyamanan, keamanan, dan memenuhi kebutuhan sosial kita sebagai makhluk sosial. Karena bangsa Indonesia sendiri terdiri dari berbagai suku, agama, adat istiadat yang mana hal tersebut saling melengkapi.

Ketiga, dan merupakan bagian yang tak bisa dilupakan, agar dapat mengurangi dan menghapuskan korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu, maka perlulah adanya nilai kejujuran, penguatan akidah, dan penanaman karakter yang kuat di setiap diri pribadi pemuda Indonesia. Ketika kita memiliki kecerdasan, kepintaran, kuasa, dan lain sebagainya, tak ada gunanya bila kita tak memiliki kejujuran yang tertanam di diri kita, dan malah akan menjadi musuh suatu bangsa karena dapat merugikan setiap kalangan.

Tak ada gunanya bila kita tak memiliki akidah yang kuat untuk melawan keburukan dan menegakkan keadilan. Tak akan berguna juga bila kita tak memiliki karakter yang kuat dan kokoh untuk meyakini bahwa inilah jati diri kita sebagai pemuda. Mengisi dan mempertahankan kemerdekaan sudah menjadi tanggung jawab seluruh warga negara, dan termasuk kita para generasi pemuda. Bung Karno berpesan kepada kita, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Ini berarti bahwa, kita harus benar-benar berjuang dan tahu siapa musuh kita sekarang. Ia adalah kemiskinan, kebodohan, pengangguran, perpecahan, sakit serta penyakit, kejahatan, pelanggar hukum, dan masih banyak lagi. Itu semua menjadi PR kita para generasi muda. Karena generasi muda adalah tokoh sentral sebagai pembawa dan penerus cita-cita bangsa.

Maka dengan tiga pembahasan tersebutlah kita dapat dianggap menjadi pemuda yang diharap keberadaannya, generasi yang ditunggu aksinya, dan pelajar yang dijadikan contoh pelajar lainnya. Indonesia bukan hanya sebagai kumpulan pulau pada peta, namun lebih dari itu, Indonesia merupakan pergerakan persatuan yang menggema. Maka dari itu, peran pemuda, pelajar, dan para generasi penerus diibaratkan suatu daun dari tangkai pohon yang jatuh dan memupuk pohon itu sendiri. Sedangkan ilmu bekal kita adalah air itu sendiri, untuk tetap menjaga pohon agar tetap sehat dan terus tumbuh seiring berkembangnya jaman.

Oleh: Muhammad Arif Perdana Wijaya
Editor: Alexander Adam Mukhaer
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya
Kiriman Sebelumnya
Kiriman Selanjutnya

Ikuti KweeksNews!

104FansSuka
1,063PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -