Beberapa waktu lalu, kita menyaksikan bersama berbagai bentuk protes masyarakat terhadap pemerintah Indonesia yang disiarkan melalui beragam media. Protes tersebut ditujukan kepada banyak elemen pemerintahan, mulai dari Presiden, Kementerian, DPR, hingga aparat kepolisian.
Salah satu bentuk protes yang paling marak diarahkan kepada aparat kepolisian. Beragam bentuk kekecewaan masyarakat terhadap sebagian oknum polisi ditunjukkan, misalnya melalui ungkapan “Sekolah yang tinggi biar gak jadi polisi”, hingga penggunaan kode 1312.
Lantas, apa sebenarnya arti dari kode 1312? Bagaimana asal-usul kemunculannya? Dan apa motif yang membuat masyarakat, khususnya generasi muda, marak menggunakan kode tersebut? Kalau masih penasaran, lanjutin terus aja bacanya.
1312: Arti dan Sejarahnya
Mungkin masih ada di antara kita yang penasaran dengan arti dari kode 1312. Sebenarnya apa sih makna kode ini, dan bagaimana sejarah kemunculannya? Berikut ini akan dibahas penjelasannya.
Kode 1312 merupakan kode angka yang merujuk pada singkatan ACAB. Kode ini disusun berdasarkan urutan huruf dalam alfabet, yaitu A (1), C (3), A (1), dan B (2). ACAB sendiri merupakan singkatan dari kalimat “All Cops Are Bstrds”, yang berarti, mohon maaf, “Semua Polisi Adalah Bjingan”.
Singkatan ACAB dan kode 1312 telah lama digunakan dalam bentuk tato, grafiti, spanduk, dan berbagai media lain di sejumlah negara sebagai bentuk protes. Lalu, bagaimana sejarah awal penggunaan kode 1312 atau singkatan ACAB ini?
Mengutip dari detik.com yang juga merujuk pada qg Magazine, asal-usul pasti istilah ACAB memang sulit dilacak. Namun, banyak yang meyakini bahwa istilah ini muncul di Inggris pada paruh pertama abad ke-20. Konon, frasa “All Coppers Are Bastards” pertama kali disingkat menjadi ACAB oleh para pekerja yang melakukan mogok kerja pada 1940-an.
James Poulter dari Vice pernah menemukan rekaman video tahun 1958 yang memperlihatkan sekelompok anak muda meneriakkan frasa tersebut di jalanan. Istilah ACAB kemudian semakin dikenal luas pada 1970, ketika surat kabar Daily Mirror menjadikannya sebagai judul utama. Artikel tersebut memberitakan seorang remaja yang ditangkap polisi karena menyulam frasa ACAB di jaketnya setelah meniru seorang anggota Hells Angel.
Remaja tersebut berdalih bahwa ia mengira ACAB berarti “All Canadians Are Bums” dan hanya dijatuhi denda sebesar 5 pound sterling. Namun, sejak peristiwa itu, istilah ACAB semakin populer sebagai simbol perlawanan generasi muda terhadap kepolisian.
Pada dekade 1970-an, perkembangan ACAB semakin erat kaitannya dengan budaya musik punk. Dalam dunia punk, ACAB menemukan semacam “rumah spiritual” dan kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia sebagai semboyan gerakan anarkis dan anti-otoritarian. Lagu-lagu punk yang singkat, keras, dan penuh amarah menjadi medium utama penyebarannya. Salah satu contoh paling terkenal adalah lagu berjudul “ACAB” yang dipopulerkan oleh band punk asal London, The 4-Skins.
Sejak saat itu, istilah ACAB tidak hanya menjadi slogan jalanan, tetapi juga bagian dari identitas subkultur punk, skinhead, hingga gerakan protes global, dari New York hingga Indonesia.
Pada intinya, kode 1312 dan singkatan ACAB berkembang sebagai bentuk protes generasi muda terhadap aparat kepolisian yang dipandang buruk. Kode ini juga kerap digunakan sebagai bentuk ekspresi gerakan anti-otoriter.
Kontroversi Penggunaan Kode 1312 dan Singkatan ACAB
Ketika memahami arti sebenarnya dari kode 1312, mungkin muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kode 1312 merupakan representasi dari singkatan ACAB dengan kepanjangan yang jelas bermakna generalisasi.
Mengatakan bahwa semua polisi itu buruk tentu tidak tepat. Tidak semua polisi bersikap buruk. Masih banyak polisi yang bertindak baik, jujur, berintegritas, dan profesional. Yang patut dikritik adalah oknum-oknum tertentu, bukan keseluruhan institusi secara membabi buta.
Selain itu, kode 1312 dan singkatan ACAB juga berkaitan dengan budaya musik punk dan gerakan anarkis, meskipun pada era modern penggunaannya meluas ke media sosial seperti TikTok. Mengutip detik.com, Liga Anti-Pencemaran Nama Baik (Anti-Defamation League/ADL) mencatat ACAB sebagai simbol kebencian, meski menekankan bahwa penggunaannya harus dilihat berdasarkan konteks. Hal ini disebabkan karena frasa tersebut pernah digunakan oleh kelompok rasis maupun anti-rasis.
Beberapa negara bahkan melarang penggunaan singkatan ACAB. Mengutip dari timesindonesia.co.id, di Jerman, ACAB pernah menjadi subjek litigasi ujaran kebencian. Sementara di Amerika Serikat, istilah ini digunakan dalam gerakan Black Lives Matter dan menimbulkan ketegangan hukum antara kebebasan berekspresi dan penghinaan terhadap institusi negara.
Oleh karena itu, kritik seharusnya diarahkan kepada oknum yang bersalah, bukan digeneralisasikan kepada seluruh aparat kepolisian.
Evaluasi terhadap Kepolisian
Di Indonesia, kode 1312 dan singkatan ACAB beberapa kali digunakan sebagai bentuk protes terhadap oknum polisi yang melakukan tindakan kekerasan. Contohnya dapat dilihat dalam tragedi Kanjuruhan tahun 2022 dan insiden yang menimpa driver ojek online Affan Kurniawan beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, institusi kepolisian sudah sepatutnya meningkatkan wibawa dan kepercayaan publik dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja jajarannya. Segala bentuk tindakan korupsi yang menggerogoti elemen pemerintahan, termasuk aparat kepolisian, harus diupayakan untuk dihilangkan. Fenomena pungli (pungutan liar) yang masih terjadi saat polisi menjalankan tugas merupakan bentuk pencurian terselubung yang tidak dapat ditoleransi.
Selain itu, dalam menghadapi demonstrasi, aparat kepolisian perlu tetap mematuhi SOP yang berlaku dan membuka ruang dialog damai. Memberikan kesempatan kepada perwakilan demonstran untuk menyampaikan aspirasi secara langsung dapat mencegah terjadinya kerusuhan, pengrusakan, maupun penjarahan, sekaligus membangun situasi yang kondusif.
Apabila polisi siap menerima aspirasi tanpa tekanan dan kekerasan, maka, insya Allah, demonstrasi dapat berjalan damai seperti dialog biasa, tanpa pihak yang merasa disalahkan. Polisi yang bertugas harus menjalankan tugasnya secara baik, efektif, profesional, dan proporsional.
Identitas sebagai seorang polisi sejatinya dapat menjadi sarana dakwah, seperti mengingatkan masyarakat akan bahaya maksiat pergaulan bebas, mengajak gotong royong, membangun ketertiban, menciptakan lingkungan yang aman, serta menegakkan keadilan.
Perlu diingat bahwa keadilan bukan berarti menyama-ratakan perlakuan kepada semua orang. Menyamakan perlakuan antara orang baik dan orang jahat justru menghilangkan makna keadilan itu sendiri. Keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang baik dan alim diperlakukan dengan hormat, sementara pelaku kejahatan diperlakukan sesuai perbuatannya.
Prinsip ini sejalan dengan ungkapan, “Kalau kamu enak, maka saya bisa enak. Tapi kalau kamu nggak enak, maka saya bisa lebih nggak enak.” Oleh karena itu, hal terpenting adalah membersihkan institusi kepolisian dari potensi munculnya oknum-oknum yang korup dan tidak profesional. Pada dasarnya, masyarakat siap memberikan rasa hormat kepada polisi selama aparatnya bersih dan berintegritas.
Penulis : Aza Kahfi Najiy
Penyunting : Jawda Zahi Alghania