25.6 C
Yogyakarta
Rabu, 11 Februari 2026
BerandaArtikelApakah Seni AI Masih Disebut Seni?

Apakah Seni AI Masih Disebut Seni?

Apakah Seni AI Masih Disebut Seni?

Teknologi yang semakin maju telah membuat kehidupan manusia semakin mudah. Lebih jauh lagi, kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) menawarkan solusi baru untuk hampir setiap masalah. AI adalah teknologi yang meniru kemampuan manusia dan memiliki kecerdasan seperti berpikir, menganalisis, dan menciptakan. Namun, inovasi baru ini juga memiliki dampak negatif sebagai konsekuensinya, khususnya di dunia seni.

Untuk memahami masalah ini, kita dapat kembali ke masa ketika fotografi tidak dianggap sebagai seni. Kemudian, sekitar abad ke-19, orang-orang berpendapat bahwa foto hanya meniru realitas. Namun, seiring berjalannya waktu, fotografi dikategorikan sebagai seni, yang disebut seni rupa. Perdebatan serupa muncul saat ini dengan seni yang dihasilkan AI. Ketika AI menciptakan sebuah karya seni, ia menyusun dan mencampur ulang dari berbagai sumber di internet. Itu bisa berupa seni digital dari seniman di media sosial, beberapa mahakarya dari seniman legendaris, dan banyak lagi. Ia menggabungkan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, menimbulkan pertanyaan tentang orisinalitas.

Fenomena ini menimbulkan pandangan kontradiktif baru: banyak orang sekarang bertanya, apakah seni AI masih disebut seni? Jawaban ini didasarkan pada perspektif yang diambil. UNESCO mendefinisikan seni sebagai ekspresi budaya dan kreativitas, cara bagi manusia untuk menafsirkan dunia dan mengomunikasikan ide, kepercayaan, dan emosi.

Di sisi lain, seperti yang ditunjukkan oleh Elgammal dkk. (2019) dalam penelitian mereka tentang karya seni yang dihasilkan AI yang dijual di Christie’s, nilai seni tidak hanya terletak pada asal-usul penciptanya, tetapi juga pada dialog yang ditimbulkannya dalam masyarakat.

Meskipun demikian, alasan tentang etika juga diakui oleh beberapa orang. Faktanya, AI dalam sebagian besar kesempatan menghasilkan karya seni dituduh mencuri dari banyak gambar yang digambar oleh seniman di internet. Selain itu, AI juga memiliki kekurangan etika. Seperti yang dilaporkan dalam artikel The New Yorker, sistem AI sering menghasilkan karya dengan klaim bebas hak cipta, meskipun dilatih pada materi yang dilindungi hak cipta. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keadilan, kepemilikan, dan kekayaan intelektual. Di luar itu, ada juga masalah ketidakseimbangan kekuasaan. Sementara seniman manusia independen berjuang untuk bersaing, perusahaan-perusahaan besar dengan akses ke kumpulan data yang luas memproduksi dan memonetisasi seni AI secara massal dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengancam keberlanjutan karier kreatif dan menimbulkan masalah keadilan dan kelangsungan budaya.

Kesimpulannya, pertanyaan apakah seni AI benar-benar seni bergantung pada bagaimana kita mendefinisikannya: Jika seni dibingkai sebagai ekspresi manusia, maka seni AI dikecualikan; jika dihargai karena dialog yang dihasilkannya dalam masyarakat, seni AI dapat diakui sebagai seni. Pada akhirnya, teknologi adalah cermin yang mencerminkan kita, manusia. Baik kita menerimanya atau menolaknya, AI adalah inovasi kita—hasil dari pikiran manusia. Karena teknologi selalu memiliki dua sisi dampak, penting untuk merenungkan dengan cermat bagaimana kita menggunakan AI dalam ranah seni. Tantangan bagi generasi kita bukanlah sekadar melabeli seni AI sebagai valid atau tidak valid, tetapi untuk memutuskan bagaimana kita ingin mengintegrasikannya ke dalam budaya secara bertanggung jawab. Ini berarti memastikan penggunaan data yang etis, melindungi kreativitas manusia, dan menyadari bahwa makna seni terus berkembang dengan setiap alat baru yang kita ciptakan, maka kita dapat membangun dunia yang lebih baik.

Penulis: Muhammad Akhdan Al Hakam
Penyunting: Jawda Zahi Alghani
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

110FansSuka
1,153PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -