Hampir dua minggu kesepakatan gencatan senjata konflik Israel–Hamas resmi dimulai. Kesepakatan yang diinisiasi oleh Trump ini sudah efektif sedari awal pekan ini saat banyak pemimpin dunia berkumpul di Kairo, Mesir, di mana Presiden kita, Prabowo Subianto, turut hadir menyaksikan gencatan senjata yang paling dinantikan dan sangat berpengaruh terhadap kondisi dunia saat ini. Suara tembakan mulai jarang terdengar. Bantuan logistik maupun alat berat beriringan masuk melewati perbatasan di Rafah, yang bersamanya tumbuh harapan bagi sekitar 1,4 juta warga Palestina yang tinggal di koridor sempit yang kini hanya tersisa puing-puing.
Langkah penting ini menjadi batu pijakan awal bagi pembangunan wilayah dan rehabilitasi korban perang yang sebagian besar merupakan warga sipil. Dengan berhentinya pertempuran, orang-orang kembali ke rumah masing-masing meskipun bangunannya hancur. Setidaknya, ada kesempatan untuk membangun kembali.
Namun demikian, penulis merasa ada sedikit kejanggalan dalam beberapa poin yang tercantum dalam kesepakatan tersebut, seperti kepemimpinan dan keamanan koridor Gaza setelah Hamas yang kemungkinan nantinya dibubarkan atau dilemahkan secara signifikan dengan paksa, serta banyaknya pihak pengamat internasional yang berasal dari negara-negara Barat yang secara publik dekat dengan Israel.
Mungkin ini hanya prasangka semata. Para tokoh dunia saat kesepakatan ditandatangani mengikrarkan komitmen untuk menghentikan konflik dan merekonstruksi Gaza. Namun, janji para pemimpin itu ternodai oleh banyaknya masalah yang muncul setelah kesepakatan, mulai dari serangan sporadis IDF yang menghambat pertukaran sandera, hingga penghentian truk-truk kemanusiaan di pos perbatasan oleh tentara Israel. Dikhawatirkan, insiden-insiden ini menumpuk hingga memicu rusaknya gencatan senjata, yang bisa melanjutkan konflik dan memupus harapan perdamaian.
Sungguh banyak orang yang berharap gencatan senjata ini tidak gagal hingga dapat mewujudkan kestabilan dan perdamaian melalui perjanjian damai. Entah di mana posisi pembaca mengenai konflik ini, tetapi dapat dipastikan kebanyakan orang tidak menyukai perang. Konflik berkepanjangan merusak hampir segala hal dengan alasan yang kadang bermula dari hal sepele atau bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Apalagi perang di zaman sekarang sangat merusak dan menghancurkan, terbukti dengan banyaknya korban sipil nonmiliter serta kerusakan alam yang signifikan. Penulis benar-benar berharap perang ini segera usai dan tidak dilanjutkan dengan perang lainnya. Resolusi semoga cepat tercapai hingga Palestina dapat meraih haknya sebagai negara berdaulat dan menyebarkan kedamaian di daerah itu serta di seluruh dunia.
Penulis : M. Satriaji Syawal S.
Penyunting : Jawda Zahi A.