Atmosfer Tegang Ujian
Di luar ruangan, kami duduk di bangku semen yang mengitari batang pohon. Termenung, pikiran melayang jauh sedang berimajinasi apa yang akan terjadi—kami bengong. Hening ini tak terpecahkan oleh suara-suara kendaraan yang lalu-lalang di hadapan kami. Belum terdengar bunyi tawa selain tawa getir. Kami fokus pada pikiran masing-masing.
Di minggu-minggu ini, di ujung perjalanan kami di madrasah tercinta ini, kami kader tingkat enam harus menyelesaikan salah satu syarat kelulusan. Adalah ujian kader. Konsep ujiannya sederhana, tiap kelompok ujian memiliki satu penguji dari tokoh besar Muhammadiyah. Dari kelompok itu akan melakukan SGD (Small Group Discussion) yang kemudian dipimpin oleh penguji. Penguji akan menguji wawasan ke-Muhammadiyah-an dari para kader yang diuji.
Menariknya para kader tidak diberi gambaran soal apa yang akan ditanyakan nanti. Tipe pengujinya pun berbeda-beda. Ada penguji yang sepenuhnya mengajak diskusi-argumentatif; penguji yang bertanya-jawab sejarah; dan ada juga yang lebih meminta kita untuk mendengar nasihat dengan sedikit pertanyaan, namun tajam. Jadi memang ujian ini cukup menantang. Bagaimana kita menganalisis penguji, serta bersiap apa adanya dengan wawasan yang telah diperoleh selama kurang lebih enam tahun perjalanan ini.
Senin, 12 Januari 2025, pukul 13.30, ujian kelompok saya terjadwal. Ujian kami segera dilaksanakan di kantor BPH Madrasah Muallimin-Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Penguji kami ialah Ustaz Drs. Hamdan Hambali. Beliau adalah mantan direktur madrasah kami di tahun 1993 sampai 1999.
Di ruangan rapat dengan meja-meja yang disusun menjadi letter U, kami bersebelas duduk rapi: cara duduk, berpakaian, dan peci. Atmosfer ketegangan jelas terasa. Seakan-akan backsound musik tegang terputar-putar membawa suasana.
Satu jam lebih setelah ujian dimulai, waktu terlewati tak terasa. Foto bersama dan menyalami tangan Penguji menjadi penutup. Berapa kawan Penulis mengatakan ujian kami ini sangat mudah. Tak salah memang, jika dipandang dari jawaban tekstual tanpa memandang esensi kepada soal yang diajukan. Ustaz Hamdan ini lebih kepada tipe pemberi nasihat dengan sedikit pertanyaan. Beliau hanya memberi satu pertanyaan tajam: “Apa kiprahmu sebagai kader Muhammadiyah setelah jadi alumni Muallimin dalam jangka pendek dan jangka panjang?”.
Sarat Penuh Makna
Pada awalnya sebelum ujian ini berlangsung Penulis condong berpikir perihal bagaimana nanti hasil nilainya. Namun, seusainya, Penulis condong berpikir tentang bagaimana saya bisa berperan di bumi ini ke depan. Berubah dari nilai ke “nilai-nilai”.
Di awal, Ustaz mengkritik tagline madrasah kita dahulu: “Sekolah Kader Persyarikatan”, sebelum diganti yang sekarang: “Sekolah Pemimpin Bangsa”. Beliau mengatakan bahwa tagline “Sekolah Kader Persyarikatan” kurang pantas, karena dalam fakta lapangan yang ada, beliau tidak melihat (saat ini) alumni Muallimin yang berperan besar sampai di Pimpinan Pusat, jadi menurutnya tagline tersebut tidak sesuai arti seharusnya. Seharusnya, bila mengacu kepada tagline, Madrasah ini mencetak para kader yang nantinya akan berperan kembali ke Muhammadiyah. Faktanya, hanya sedikit yang benar-benar menjadi kader persyarikatan dan berperan.
Penulis jadi sedikit berpikir. Apakah sebenarnya tagline yang diganti menjadi “Sekolah Pemimpin Bangsa” adalah upaya menghindar dari kritik, atau memang dilakukan penyesuaian narasi agar visibilitas alumni kita lebih besar dan luas. Penulis hanya bertanya-tanya sambil berjalan mencari atau bahkan menciptakan jawaban.
Tapi yang pasti, kritik beliau membuat kita sadar, bahwa benar-benar perlu ada perwakilan dari kita yang nantinya kembali dan berperan besar di persyarikatan ini dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Punya peran dan menciptakan perubahan nyata.
Beliau mengajukan satu pertanyaan saja di ujian kami. Pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab tetapi sangat bervolume. Berat akan beban moralitas: “Apa kiprahmu sebagai kader Muhammadiyah setelah jadi alumni Muallimin dalam jangka pendek dan jangka panjang?”. Jawaban idealis-hipotesis dengan mudah dilontarkan dari masing-masing mulut kami. Ada yang menjawab nanti hendak masuk IMM dan berperan mengaktifkan gerakan; ada kawan saya hendak berperan di PCIM Mesir; ada yang punya impian jadi dosen; ada yang ingin menjadi guru di sebuah SMK Muhammadiyah; dan ada juga yang hendak ber-Muhammadiyah di China; dan macam-macam impian lain. Tiap-tiap langkah perlu kami realisasi agar tidak sekadar basa-basi.
Penulis merasa sangat berat. Karena jawaban kami menjadi janji yang harus benar-benar kami lakukan. Jangan sampai ucapan ini hanya karangan demi mencapai kelulusan tanpa gerakan keberlanjutan. Penulis pribadi merasa apabila tidak melakukan apa yang telah diucapkan di situ adalah hal yang “cemen”.
Pesan untuk Alumni Muallimin
Di ujung pembicaraan, Ustaz Hamdan memberi wasiat penting untuk kami calon alumni Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Inti bunyinya: Sebagai kader Muallimin yang telah lulus jangan sampai jadi seperti kuda liar yang bingung hidup dan arahnya ke mana. Jangan pula jadi burung yang baru dilepas dari sangkar. Karena burung itu terbiasa diberi makan di kandang, sehingga saat dilepas dia bingung bagaimana cara mendapat makanan.
Kita sebagai kader Muallimin jangan lupa jati diri. Jangan kehilangan nilai-nilai yang kita gali di madrasah ini. Jangan dengan mudahnya kita tak acuhkan segala nilai-nilai yang kita terima di sini. Tetaplah kuat berpijak di atas kaki yang telah kita latih. Jadilah kader militan.
Akhirnya, ujian kader inilah yang membekas di hati kami. Sekurang- kurangnya itu tadi yang tersimpan di memori saya yang terbatas ini. Pertemuan ini mengingatkan kembali kepada kami bahwa kader sejati adalah yang senantiasa ingat jati dirinya: dari mana dia berasal, di mana dia dididik, ke mana dia akan pergi, dan untuk apa dia hidup. Tulisan ini menjadi pengingat yang Penulis peroleh dari nasihat Ustaz Drs. Hamdan Hambali, sekaligus tulisan ini sebagai ucapan terima kasih atas pesan-pesan berharga yang telah beliau sampaikan.
Penulis: Mouldy Mohammad Zayyedi