Suasana pagi yang cerah dengan iringan kicau burung menyambut dimulainya hari kedua kegiatan Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati (PKDTM) 1. Para kader tingkat III memulai aktivitas dengan penuh semangat melalui senam pagi yang dipandu oleh Master of Games. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan relaksasi setelah padatnya materi pada malam sebelumnya sekaligus menyegarkan kembali kondisi fisik dan pikiran peserta agar siap mengikuti rangkaian agenda berikutnya.
Setelah berolahraga, peserta melanjutkan kegiatan dengan mandi dan sarapan bersama sebelum memasuki materi ketiga, yakni Ke-IPM-an. Materi tersebut disampaikan oleh Muhammad Alfin Aunillah, Fadhlan Muhammad Ahsanul A’mal, Bendina Morezky, serta Aisyah Nur Rahima. Penyampaian materi dilakukan menggunakan metode Small Group Discussion (SGD) atau diskusi kelompok kecil sehingga suasana forum terasa lebih inklusif, hangat, dan interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi serta aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan.
Dalam pemaparannya, para pemateri menjelaskan bahwa memahami Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tidak cukup hanya sebatas mengenal nama dan struktur organisasinya. Peserta diajak memahami nilai dasar, arah gerakan, hingga karakter kader yang harus dibentuk dalam kehidupan berorganisasi. Materi ini juga menekankan bahwa IPM merupakan ruang pembinaan pelajar yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan formal, tetapi juga pembentukan kesadaran sosial dan pengembangan potensi diri.
“Dalam Muhammadiyah, IPM berperan dalam mendukung inklusivitas pelajar, baik dalam tatanan sosial masyarakat maupun sebagai wadah pengembangan keterampilan. Anak-anak IPM berhak mendapatkan itu semua,” tegas Bendina Morezky.
Ia juga menjelaskan bahwa IPM bukan sekadar tempat berkumpul atau menjalankan program kerja, melainkan ruang untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Menurutnya, kader tidak harus selalu unggul dalam satu bidang tertentu, seperti menulis, tetapi juga dapat mengembangkan bakat lain, seperti seni, musik, maupun bahasa melalui proses belajar bersama di lingkungan organisasi.
Selain itu, nilai-nilai keislaman dan keilmuan turut menjadi perhatian penting dalam kehidupan kader IPM. Sikap toleransi, muamalah, adab, serta etika harus terus dijaga agar mampu membentuk kader yang berintegritas dan berkemajuan. Pada akhir sesi, peserta mendapat pesan motivasi agar tidak hanya menjadi penonton di tengah perkembangan zaman.
“Jangan cuma diam dan scrolling, saatnya aksi nyata,” ungkap salah satu pemateri.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kader muda harus mampu bergerak, mengambil peran, serta memberikan dampak nyata di lingkungan sekitarnya. Dari materi Ke-IPM-an ini, peserta mulai diarahkan untuk memahami bahwa organisasi bukan hanya ruang administratif, melainkan tempat menempa pola pikir, karakter, dan kepedulian sosial.
Semangat tersebut kemudian berlanjut pada materi berikutnya yang membahas dinamika organisasi bersama Aisyah Lathifunnisya atau yang akrab disapa Mbak Ipun. Sejak awal sesi, suasana forum terasa hidup. Mbak Ipun meminta para pemimpin di setiap kelompok, mulai dari ketua kamar, komunitas, hingga ketua angkatan, untuk berdiri. Cara tersebut berhasil membangun komunikasi dua arah yang cair sehingga materi terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Mbak Ipun menegaskan bahwa kader hebat lahir dari zona yang tidak nyaman. Menurutnya, tantangan dalam organisasi justru menjadi sarana terbaik untuk membentuk mental, kemampuan berpikir, dan kedewasaan seseorang. Ia menjelaskan bahwa organisasi memiliki banyak manfaat, seperti mengasah kemampuan manajerial, melatih komunikasi dan public speaking, serta membangun kemampuan kerja sama dan kolaborasi.
“Organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang untuk bertumbuh, belajar, jatuh, dan bangkit,” tuturnya.
Mbak Ipun juga menekankan bahwa seorang kader harus mampu mengelola tanggung jawab secara seimbang. Kesibukan dalam organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kewajiban utama sebagai pelajar. Menurutnya, kader yang baik bukanlah mereka yang terlihat paling sibuk, melainkan mereka yang mampu menentukan prioritas dan menjalankan amanah dengan maksimal.
“Kader yang baik bukan yang sibuk, tetapi kader yang mampu mengelola prioritas,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap persoalan organisasi harus dipahami berdasarkan realitas sosial yang ada. Kader dituntut menjadi problem solver yang mampu membaca keadaan di sekitarnya. Dalam penjelasannya, Mbak Ipun memperkenalkan beberapa pendekatan dalam manajemen organisasi, seperti analisis sosial, appreciative inquiry, dan konsep 4D yang meliputi Discovery, Dream, Design, dan Destiny. Ia menguraikan langkah-langkah penerapan konsep tersebut agar peserta lebih mudah memahami cara menghadapi berbagai persoalan organisasi.
Tidak hanya membahas teori, Mbak Ipun juga banyak memberikan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan kader di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang sehat antaranggota, kemampuan mendengar pendapat orang lain, serta keberanian untuk menyampaikan gagasan secara santun dan bertanggung jawab. Menurutnya, organisasi yang baik lahir dari budaya saling menghargai dan kemauan untuk berkembang bersama.
Setelah peserta diajak memahami dinamika organisasi, materi berikutnya membawa mereka pada pembahasan tentang keteladanan. Menjelang sore hari, peserta mengikuti materi kelima bertema Keteladanan yang disampaikan oleh Muhammad Zulfa Zaidan Ichsanie, yang juga merupakan alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Dalam materinya, ia menegaskan bahwa keteladanan bukan hanya tentang meniru orang lain, melainkan membentuk diri menjadi pribadi yang konsisten dan siap menghadapi masa depan. Ia juga menyampaikan bahwa motivasi, target, dan keyakinan harus berjalan beriringan dalam memperjuangkan sesuatu.
Beliau kemudian mengajak peserta belajar dari keteladanan Kiai Ahmad Dahlan. Diceritakan bahwa Kiai Ahmad Dahlan pernah mengajarkan Surah Al-Ma’un kepada murid-muridnya selama berbulan-bulan. Namun, beliau merasa resah karena ajaran tersebut belum diwujudkan dalam tindakan nyata. Dari keresahan itulah lahir gerakan sosial yang kemudian menjadi salah satu ciri perjuangan Muhammadiyah.
Sebagai penutup materi, Kak Zaidan menyampaikan pesan yang disambut antusias oleh peserta. “Jika tidak ada figur yang bisa dicontoh, maka kalianlah figurnya.” Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kader memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.
Memasuki malam hari, suasana yang semula hening kembali hidup dengan dimulainya materi terakhir pada hari kedua PKDTM 1. Materi tersebut disampaikan oleh Ustaz Fadhlurrahman dengan gaya penyampaian yang interaktif dan dekat dengan peserta. Pada awal sesi, beliau menampilkan sebuah video fabel tentang perjuangan menghadapi rintangan dan pentingnya terus belajar dari ketidaksempurnaan.
Melalui tayangan tersebut, peserta diajak menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan yang harus diperbaiki melalui proses belajar dan perjuangan. Ustaz Fadhlurrahman kemudian mengaitkan pesan dalam video dengan realitas yang dihadapi pelajar Mu’allimin saat ini, yaitu krisis identitas. Menurutnya, kader Mu’allimin seharusnya memiliki ciri khas, prinsip, dan nilai yang kuat sehingga tidak mudah kehilangan arah di tengah perkembangan zaman.
Beliau juga banyak menyampaikan pelajaran hidup yang dekat dengan keseharian peserta, seperti pentingnya menjaga pergaulan, menjauhi pacaran, serta memperkuat nilai-nilai kemu’alliminan dan kepemimpinan yang teguh. Materi tersebut semakin menegaskan bahwa fondasi ilmu dan karakter harus berjalan beriringan agar mampu membentuk kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Rangkaian materi pada hari kedua PKDTM 1 pun menjadi ruang pembelajaran yang utuh bagi peserta. Mulai dari pemahaman tentang IPM, dinamika organisasi, nilai keteladanan, hingga penguatan identitas kader, seluruh materi saling berkaitan dalam membentuk karakter pelajar Muhammadiyah yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Penulis: Eprillio Iqbal Rasendria, Adib Jordi
Penyunting: Eprillio Iqbal Rasendria, Adib Jordi
Fotografer: Akbar Dzulfikar, Muhammad Rafif Farrel
