27.9 C
Yogyakarta
Senin, 15 Agustus 2022
BerandaKabarRasyidi Forum: Buku dan Peradaban

Rasyidi Forum: Buku dan Peradaban

Rasyidi Circle for Islamic Thought kembali menggelar Rasyidi Forum sebagai diskusi mingguan, dengan tajuk “Buku dan Peradaban” pada Jum’at (30/09/2021) malam. Diskusi malam itu mengundang ustaz Yusuf Maulana, seorang penulis buku, pemikir produktif, dan pengasuh berbagai kajian di Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan melalui platform zoom meeting tersebut dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan di awali dengan pemaparan materi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. kegiatan tersebut dimoderatori oleh Nabil Makarim (alumni Mu’allimin 2021).

Dalam mukaddimahnya ustadz Yusuf Maulana membacakan ayat Q.S. al-Isra [17]: 85 yang berbunyi “wa mā utītum minal-‘ilmi illā qalīlā” sebagai penggambaran bahwa pemberian ilmu dari tuhan kepada manusia hanyalah sedikit, dan manusia dituntut untuk terus ber-ikhtiar meningkatkan pengetahuan sehingga menghasilkan wawasan komprehensif.


“diskusi-diskusi tentang buku dan peradaban sudah sangat banyak dan sering, maka dalam kesempatan kali ini saya akan mencoba bagaimana agar kita terlibat secara emosi dan aksi kaitanya dengan buku dan peradaban” ujar beliau.

Beliau kemudian mengangkat tokoh esensial dalam upaya menyematkan dunia perbukuan dan permanuskripan. Bagaimana Abdul Qader Haidara salah seorang ulama dari Mali – negara di Afrika Barat – menghadapi kaum pengganas atau golongan ektremitas yang menjarah manuskrip-manuskrip, buku-buku, perpustakaan, dan sebagainya. Padahal penjarahan yang mereka lakukan dilakukan terhadap sesama masyarakat muslim yang hanya berbeda mazhab. Disebut ustaz Ayub bahwa mereka adalah “kalangan islamis yang berlebihan”. Manuskrip-manuskrip yang dijarah merupakan manuskrip masa lampau dari kurun abad ke 17, bahkan juga manuskrip-manuskrip termasuk al-Qur’an dari abad ke-12. Haidara di salah satu perpustakaan Timbuktu pada malam-malam itu mengemas berbagai karya sastra, karya kuno dan sebagainya untuk menyelamatkan Mali dari kebinasaan pengetahuan dari al-Qaeda al-Maghreb Islam (AQIM). Sekali lagi, Haidara giat berusaha mendokumentasikan berbagai manuskrip.

Selain itu, dalam konteks masyarakat yang dihadapi Ibnu Khaldun – salah seorang filsuf muslim dan ahli sosial-politik – ustaz Yusuf menyampaikan adanya dampak kemajuan pengetahuan apabila masyarakat universal memanfaatkan buku dan berbagai manuskrip untuk menjalani kehidupan sosial-individu. Dampak tersebut yang dalam teori Ibnu Khald disebut masyarakat umran, hal itu bisa disaksikan atas banyaknya bangunan-bangunan saat saat itu yang berarsitektur seni-budaya yang tinggi karena buku-buku saat itu benar-benar dijadikan sebagai modal memajukan bangsa dan masyarakat.

Dalam contoh kemajuan peradaban lain, kita bisa melihat “Naila Khatun, seorang janda kaya berasal dari Turki, mendirikan masjid untuk mengenang suaminya, Murad Afandi. Naila, demikian dipetik dari Agus Rifai dalam bukunya “Perpustakaan Islam” (2013: 95), menempelkan masjid yang dibangunnya dengan madrasah dan perpustakaan, yang koleksinya dilaporkan berisi buku dan manuskrip berharga. Dan demi bangunan-bangunan untuk menghormati sang suami almarhum, semuanya ditanggung dari kantong Naila sendiri!” dalam persentasi materi yang disampaikannnya.

Selanjutnya, ustaz Yusuf Maulana tak ketinggalan memaparkan Syekh Qaradhawi pada usia 15 tahun, sudah melahap buku-buku tasawuf. Bolak-balik ke perpustakaan kampus terpandang jadi rutinitasnya. Kala di bangku setingkat SMP, buku-buku sastra “serius” dikhazanahi. Saat menginjak bangku SMA, karya asy-Sya’rani, Ibnu Athaillah as-Sakandari sudah dikhatamkan. Ihya Ulumiddin karya al-Ghazali peneman setia masa remaja.

pemateri menampilkan kutipan pujian puji Dr Said Ramadhan al-Buthy usai menyimak kedalaman presentasi memikat dan spontan al Qaradhawi dalam sebuah seminar pemikiran Islam di Aljazair pada 1987 “Di mata kami, ternyata Syeikh Qaradhawi seorang sufi yang terselubung. Dia ingin menyembunyikan kesufiannya dengan tabir penalaran dan salafiyah”.

Di akhir beliau menyampaikan adanya ujaran seperti “mending dijajah sama Inggris daripada Belanda, karena kalo inggris nanti bisa bahasa inggris seperti Malaysia, tapi kita lupa bahwa Inggris menjajah ‘pengetahuan’ (keilmuan) yang luar biasa” ujar beliau saat menyampaikan stigma masyarakat umum tentang implikasi penjajahan Inggris-Belanda.

Oleh: Azmi Hanief Z.
Editor: Siriel Wafa Nuriel Fahri
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya
Rasyidi Circle for Islamic Thought Studies
Rasyidi Circle for Islamic Thought Studies
RASYIDI CIRCLE FOR ISLAMIC THOUGHT STUDIES didirikan pada 5 Oktober 2018 sebagai bentuk ikhtiar santri Mu'allimin dalam pengembangan wacana pemikiran dan peradaban Islam di kalangan remaja dan masyarakat umum. Komunitas ini diresmikan oleh Wakil Direktur I Bid. Kurikulum, Dr. Mhd. Lailan Arqam pada kesempatan perdana Dauroh Pemikiran Islam di R. Multimedia Madrasah Mu'allimin.

Ikuti KweeksNews!

104FansSuka
685PengikutIkuti
40PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -