Ketegangan geopolitik Timur Tengah mencapai eskalasi tertinggi. Serangan AS-Israel dilaporkan menewaskan Ayatollah Khameini dan para petinggi lainnya. Harga minyak dunia diperkirakan meningkat drastis.
“Born too late to deploy to the Middle East, Born too early to deploy to the Middle East, Born just in time to deploy to the Middle East”.
Begitulah salah satu joke orang-orang Negeri Paman Sam yang kerap kali muncul ketika ada postingan yang membicarakan situasi terkini wilayah Arab dan sekitarnya di medsos mereka. Dan tampaknya, ada benarnya ungkapan tersebut.
Seperti biasa, Amerika Serikat kembali menunjukkan obsesi berlebih dengan daerah-daerah tersebut, dengan segala sumber dayanya, terkhususnya, apa lagi kalau bukan minyak.
Dan dengannya, keinginan mereka untuk menguasai, hingga berakhir pada keruntuhan pemerintahan-pemerintahan otoriter yang sah, mengganti mereka dengan pemerintahan yang sudah sangat dipastikan fully-democratic, non-corrupt, serta independen mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya yang sebelumnya ditindas oleh rezim diktator, ya kan?
Well, just look at Iraq and Libya. Are they on the road of prosperity?
Dan, surprise-surprise, AS dan Israel menyerang, melakukan pre-emptive strike pada rezim terakhir yang menentang hegemoni mereka di kawasan itu, Republik Islam Iran.
Nah, sebelumnya, situasi geopolitik Timur Tengah memang sudah tidak menentu. Bermula dari lengsernya rezim Saddam Hussein, Arab Spring 2011-2012, serta berbagai konflik di Palestina termasuk Konflik Gaza, wilayah Fertile Crescent yang mencakup Irak, Suriah, Lebanon dan Palestina selalu bergejolak dengan banyak perang saudara serta menjadi papan catur negara adidaya AS dan Rusia, serta negara kuat regional Turki, Iran dan Arab Saudi. Ketika Trump mulai berkuasa, ketegangan Timur Tengah semakin memanas. Terutama dengan Iran yang pretty much being an ass for Western interest in the region.
Pada pertengahan Juni 2025, terjadi Perang 12 Hari Iran melawan Israel yang melancarkan Operation Rising Lion yang menargetkan berbagai fasilitas nuklir di negeri Syiah tersebut. Iran kemudian membalas dengan serangkaian serangan rudal, yang kemudian dibalas lagi dengan pengeboman Israel dan Amerika Serikat.
Walaupun kemudian situasi geopolitik “mendingin” dengan gencatan senjata dan perundingan nuklir dengan mediasi Oman, Presiden Trump berupaya menekan dan memaksa Iran menyetujui dan melaksanakan perdamaian sesuai dengan ketentuan dirinya. Angkatan Laut AS mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford wilayah Timur Tengah.
Ditambah dengan gelombang protes besar akibat krisis ekonomi dan penurunan nilai mata uang rial di Iran sejak akhir 2025 hingga saat ini, yang memicu penanganan yang keras dari aparat keamanan Iran, mengakibatkan kecaman internasional termasuk dari Trump yang secara terang-terangan mendukung demonstran menyebabkan hambatan pada proses perundingan dan jalannya diplomasi serta menimbulkan ketegangan politik kedua negara tersebut.
Perang akhirnya pecah pada tanggal 28 Februari dengan gagalnya perundingan tersebut diakibatkan tuntutan memberatkan dari pemerintahan Trump dan Israel untuk membongkar permanen fasilitas nuklir Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hezbollah dan Hamas.
Israel dan AS melancarkan pre-emptive strike dengan label Operation Roaring Lion oleh IDF atau Operation Epic Fury oleh US Department of War ke berbagai titik-titik strategis di Iran dengan objektif menghancurkan instalasi misil, melumpuhkan kapabilitas militer nya, hingga akhirnya melengserkan rezim di sana. Serangan ini berhasil membunuh beberapa tokoh penting, dengan yang paling mengejutkan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang telah dikonfirmasi oleh media berita berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran.
Sekarang, Iran membalas dengan meluncurkan rudal mereka sendiri ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Oman, Arab Saudi, Suriah, Yordania dan bahkan hingga pangkalan Akrotiri dan Dhekelia milik Inggris di Siprus (Baru-baru ini diketahui drone yang menyerang bukan dari Iran, menimbulkan spekulasi penyerangan terhadap pangkalan Inggris didalangi Israel). Rentetan serangan itu menyebabkan penutupan wilayah udara Iran serta pemberhentian penerbangan beberapa maskapai ke wilayah Timur Tengah, yang dapat dirasakan oleh teman-teman kita yang RGE, terutama dengan negara tujuan Turki. Selain itu, Korps Garda Revolusi Iran menutup Selat Hormuz, yang dimana 31% pasokan minyak global melewati jalur tersebut tiap harinya.
Dari pemaparan singkat di atas, konflik ini akan menyebabkan dampak yang sangat besar dalam lanskap politik internasional regional Timur Tengah hingga menggetarkan stabilitas Internasional.
Yang pertama, serangan Israel ke Iran dan pembunuhan tokoh-tokoh penting Negeri Syiah tersebut secara tidak langsung menciptakan naratif gugurnya mereka sebagai syahid. Ini bukan hal yang main-main, sebab dengan ciri khas agama Islam yang menjunjung kematian sebagai jalan menuju surga menyebabkan terbongkarnya kematian Ayatollah Khamenei sebagai sebuah akhir manis seorang syuhada mempertahankan agama dan kedaulatan negaranya, yang akan dapat memperoleh dukungan luas dari masyarakat Syiah sehingga menjadi tungku memanaskan ketegangan geopolitik.
Kematian mereka juga tidak serta merta menjadikan negara Iran rentan terhadap lengsernya sistem Republik Islam. Konstitusi negara tersebut telah memperhitungkan kematian tokoh-tokoh penting sehingga sudah ada antisipasinya. Sehingga berbeda dengan Irak dan Libya–di mana saat pemimpin tertinggi mereka ditangkap dan dieksekusi, rezim mereka ikut jatuh, pemerintahan Iran mampu bertahan dan dapat berjanji untuk melakukan serangan balasan serta tindakan lebih radikal, yang dipastikan akan sangat keras dan memberi pengaruh besar di lingkup regional dan global.
Yang kedua, serangan balasan Iran yang tidak hanya ditargetkan ke Israel namun juga negara-negara Arab yang mempunyai pangkalan militer AS telah merusak citra keamanan negara-negara teluk dan kondusifitas perdamaian relatif yang ada di Timur Tengah. Now, imagine this, kamu merupakan investor atau pelancong kaya raya yang sedang berlibur dan bersantai di Dubai atau Doha, kemudian tiba-tiba saja ada rudal menghujam dari atas langit, membakar dan meledak serta kamu melihatnya secara langsung. Apakah kamu mau tetap berlibur santai, menanam modal di sana?
Penutupan jalur penerbangan dan jatuhnya image keamanan dan perdamaian di UEA, Qatar, dan Bahrain walaupun tak tampak menjatuhkan sektor tourism dan investasi negara-negara tersebut. Jika lewat di fyp-mu, akan ada influencer, wisatawan yang sedang berlibur merekam misil-misil Iran yang menghujam. Kepanikan dan kebingungan mereka serangan itu menjadi awal tanda kemunduran pariwisata mereka yang memang sudah mulai stagnan.
Yang ketiga, dan termasuk paling penting, yakni perdagangan minyak dunia. Dengan penutupan Selat Hormuz, dan menumpuknya ratusan kapal tanker menunjukkan akan terhambatnya distribusi global dan kenaikan signifikan harga minyak di dunia. Sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz pada 2025, yang menyumbang sekitar 31% dari aliran minyak global melalui laut. Mengingat Perang 12 Hari Juni 2025 lalu, saham-saham anjlok tajam pada pembukaan pasar pasca penyerangan Israel, dan baru pulih ketika telah jelas bahwa Selat Hormuz tidak terganggu. Maka, penutupan ini akan sangat mengganggu saham global dan kita harus siap dengan kenaikan signifikan BBM dan dampak ekonomi yang akan terjadi.
Dengan keadaan geopolitik saat ini, dipastikan adanya eskalasi dalam konflik ini. Hal ini pula dapat dilihat dari observasi pesawat-pesawat militer AS yang berpindah ke pangkalan udara mereka di Timur Tengah serta reaksi kelas elit dan penguasa Israel yang terpantau meninggalkan Israel dengan pesawat menuju Eropa.
Apakah Indonesia akan terdampak? Pemerintah berujar bahwa mereka berupaya menjadi mediator dalam konflik ini, dengan Pak Prabowo langsung menuju Iran untuk bernegosiasi dengan mereka. Namun, dengan kedekatan Prabowo dengan Trump dan Israel, serta apakah pengaruh Presiden kita itu memang sebesar itu, apa yang dilakukan oleh dia diragukan berdampak pada pendinginan konflik…
Nah, Terus, kita gimana dong?
Dengan keadaan itu, kita hendaknya mengambil ancang-ancang dengan hati-hati. Kenaikan harga BBM setelah kelangkaan tersebut akan berakibat terhambatnya distribusi komoditas, hilangnya potensi pendapatan, dan anjloknya saham yang akan berdampak fatal terhadap perekonomian. Maka bersiap-siaplah dengan kenaikan harga barang.
Mengenai apakah kita harus mengambil sisi Iran atau tidak pada perang ini, hendaknya kita lakukan dengan logika tanpa meninggalkan akidah kita. Yang jelas, kita tidak mendukung tindakan gegabah dan tergolong stupid Israel dan Amerika Serikat. Kita menolak dan mengutuk keras serangan tanpa provokasi terhadap Iran serta kematian masyarakat sipil di Iran dan negara-negara Arab lainnya. Dan kita berharap perdamaian regional dan dunia tetap berlangsung aman sentosa, serta senantiasa mendoakan dan memberi dukungan kepada orang-orang yang menderita dimanapun itu.
Penulis: Muhammad Syawwal Satriaji S.
Penyunting: Jawda Zahi Alghani
