24.5 C
Yogyakarta
Senin, 15 April 2024
BerandaArtikelMubaligh Hijrah di Gunung Kidul

Mubaligh Hijrah di Gunung Kidul

Penerjunan Mubaligh Hijrah 2023 kembali dilaksanakan oleh Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam penerjunan Mubaligh Hijrah (MH), para siswa dan siswi disebar di seluruh penjuru Indonesia. Ada yang diterjunkan di daerah D.I.Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan Sumatra. Selama 20 hari ber-MH, pasti ada cerita dan pengalaman yang beragam. Salah satunya siswi Mu’allimat yang ditempatkan di Kecamatan Nglipar Kabupaten Gunung Kidul, Bunga Kanya Widyawati siswi kelas IV MA yang membagikan ceritanya kepada kami beberapa waktu lalu.

Saat menjadi mubaligh di daerah Nglipar, Bunga melaksanakan berbagai kegiatan-kegiatan seperti mengajar TPA, mengisi kultum, mengajar anak TK, bahkan membantu pamong. “Pengalamanku selama mh ini ngasih aku banyak banget pelajaran pelajaran, terutama dalam hal berinteraksi dengan lingkungan masyarakat dan di MH aku juga bisa ngerasain sebuah pengalaman dimana ilmu yang aku timba di Mu’allimaat itu berguna di masyarakat contohnya kayak ngajar TPA, ngajarin ngaji ibu-ibu, ngisi kultum, ngajar anak TK, bahkan seperti membantu pamong (nyapu,masak,nyuci,dsb) jadi di MH ini aku ngerasa dikasih space buat mengaplikasikan ilmu yang aku dapatkan di Mu’allimaat ke masyarakat yang pastinya memiliki culture yang beranekaragam. MH ini bener bener ngasih kita pengalaman yang berharga banget dan berguna juga waktu kita udah gak di Mu’allimaat lagi.”

Menurutnya, dalam ber-MH ini memiliki banyak suka dan duka. Saat pertama kali diterjunkan, ia merasa harus beradaptasi dengan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar yang dimana ia merasa sedikit canggung. “Banyak banget suka duka yang aku alami pas MH ini, kalo suka nya, aku suka pas kita ngajar kayak anak anak TPA/TK yang memang ranahnya anak anak kecil yg masih imut imut, terus nambah temen dan relasi juga sama remaja-remaja setempat atau nggak sama ibu-ibu, Pak Lurah, takmir, dll”, Bunga melanjutkan, “Dan di sini juga aku jadi lebih tau tentang basic-basic morality yang ada di masyarakat yang perlu juga aku terapin dalam kehidupan sehari-hari. Nah, kalo dukanya lebih pas fase-fase awal kita diterjunin buat MH, yang dimana kita harus menyesuaikan diri di tempat MH itu dan gimana kita bersosialisasi sama masyarakat sekitar yang awal awalnya emang agak canggung dan pasti ada aja rasa nggak enakan sama pamong.”

Menurut Bunga, hal yang harus disiapkan tidak hanya soal pakaian dan uang, tetapi juga mental. Karena dalam MH ini akan menghadapi berbagai tantangan. Karena jika memiliki mental yang belum siap, MH akan berantakan, karena menurutnya, kunci keberhasilan MH adalah memiliki mental yang kuat. Masyarakat sekitar yaitu masyarakat Kecamatan Nglipar memberikan respon positif, bahkan mereka men-support dan mengarahkan para mubaligh agar tidak salah langkah.

Sebagai penutup Bunga memiliki pesan dan kesan terkait MH ini, “Kesan pesanku selama M? MH itu keren banget, bisa buat Ramadhan kita menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi karena ini juga MH pertama buat aku, jadi gak dipungkiri masih banyak banget hal yang tetap harus dijadikan evaluasi. Dan semoga untuk MH berikutnya bisa lebih keren lagi.” Meskipun ini MH pertama baginya, ia tetap merasakan pengalaman dan keseruan dalam menjadi mubaligh. Dan juga ia memiliki harapan agar Mubaligh Hijrah berikutnya bisa lebih baik lagi.

Oleh: Danu Rahman W.
Editor: Danu Rahman W.
Disclaimer: Konten adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing pembuat, kecuali dinyatakan sebaliknya. Selengkapnya

Ikuti KweeksNews!

104FansSuka
1,063PengikutIkuti
41PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -