Tentu kalian tahu, bukan? atau sering disingkat TS oleh sebagian orang, adalah salah satu cabang seni bela diri yang bernaung di bawah Persyarikatan Muhammadiyah. Tapak Suci sendiri bukanlah tempat di mana kalian mengabdikan diri hanya kepada seni bela diri semata, tetapi juga diseimbangkan dengan pembentukan karakter diri, mentalitas, maupun religi pada kadernya.
Mungkin kalian sudah tahu bahwasannya Tapak Suci ini merupakan salah satu kurikulum yang wajib bagi para peserta didik.
“Kak, memangnya Tapak Suci wajib di semua sekolah?”
Hmmmm, bisa dibilang tidak, yaaa. Tapak Suci sendiri merupakan ekstrakulikuler khusus yang ada di sekolah, tidak semua sekolah ada, ya. Biasanya, Tapak Suci ini ada pada sekolah yang bernaung di bawah Persyarikatan Muhammadiyah, yang mana biasanya sering dijadikan sebuah ekstrakulikuler wajib mulai dari jenjang pendidikan dasar.
Di sendiri, tentu saja Tapak Suci ini jadi ekstrakulikuler wajib, bahkan sampai masuk ke kurikulum wajib bagi semua siswanya.
“Tapi, Kak, masa ekstrakulikuler dijadikan pelajaran sih? Bukannya nanti bikin siswanya malas karena tidak semua orang kuat fisiknya?”
Nahhh, suka nih kalau ada pertanyaan seperti itu, jadi begini deh kujelasin. Muallimin sendiri adalah sekolah kader, kan, di mana tentu saja tak mungkin membiarkan siswanya lemah, baik secara fisik maupun mental. Sehingga, Tapak Suci diwajibkan untuk seluruh siswa di Muallimin hingga fisik maupun mental mereka kuat dan siap menjadi seorang kader.
Hari ini, tepatnya hari Sabtu, 16 Mei 2026, Tapak Suci mengadakan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) bagi Kader Tingkat 3 di Madrasah Muallimin. UKT ini jelas saja dimaksudkan untuk menilai dan menguji sejauh mana kader Muallimin memahami dan mengetes kemampuannya setelah sekian tahun mengikuti Tapak Suci ini, tepatnya tiga tahun mengikuti setiap pertemuan sekali seminggu.
Acara UKT ini dimulai di sore hari, tepatnya setelah Salat Asar. Dimulai dengan sambutan dari Ust. Fikri Wildan Nasution, S.Pd., M.Pd. Beliau memberikan motivasi pada para kader Tingkat 3 yang beberapa di antara mereka mungkin saja ada yang enggan mengikuti kegiatan ini. Beliau menjelaskan bahwasannya seorang kader harus memiliki tubuh yang kuat. Kenapa? Agar mentalitas dan spiritual yang dimiliki, jiwa yang diemban, itu adalah pondasi bagi kader. Bahwasanya, memiliki fisik yang kuat agar jiwanya pun sehat.
Setelah sambutan selesai, dilanjut dengan ujian tulis yang mengandung soal-soal tentang pengetahuan tentang Islam, Kemuhammadiyahan, dan Ke-Tapak-Suci-an. Yang mana, jikalau menyimak setiap pembelajaran selama tiga tahun ini, tentu saja soal ini akan mudah bagi mereka.
Setelah ujian tulis, para kader dibawa ke untuk melaksanakan ujian selanjutnya, ujian praktik jurus. Atau lebih sering disebut ujian ragawi. Selama dua semester ini, para kader Tingkat 3 sudah diajarkan berbagai jurus dan teknik dalam seni bela diri. Kini adalah saatnya mereka menunjukkan keterampilan yang sudah susah payah mereka latih, memperagakan semua jurus yang sudah diajarkan selama ini. Jelas saja, beberapa kesusahan, tetapi ada pula yang merasa bahwa itu mudah saja.
Tak lupa nih, UKT itu tidak lengkap kalau tidak ada yang namanya “Long March”. Sebuah tradisi yang sudah melekat sejak lama, di mana para kader diminta untuk melakukan jalan dari tempat ujian ragawi yang terletak di SMP Muhammadiyah 1 Minggir ini kembali ke Madrasah Muallimin. Berbekal dengan tongkat bambu panjang dan tekad yang kuat, mereka berhasil melewati semuanya.
Dimulai dari pos-pos yang ada, mulai dari pos Keislaman, Kemuhammadiyahan, Kemualliminan, Ke-Tapak-Suci-an, fisik, dan mental. Bahkan meski wajah dan tubuh yang lesu, terbesit kelegaan di benak bahwa mereka kader yang kuat dan tangguh. Dan secara resmi, sembari menunggu hasil nantinya, akan diputuskan siapa saja yang lulus dan siapa saja yang gagal mendapatkan Melati 3.
Acara Ujian Kenaikan Tingkat Melati 3 ini berakhir pada keesokan paginya, tepatnya pada pukul 05.30, tidak lama setelah para kader selesai melaksanakan Salat Subuh.
Wah, kayaknya sudah kepanjangan nih, ya, heee. Kalau begitu, mungkin sekian dari yang bisa kutuliskan. Semoga kalian menikmatinya, yaa. Kalau ada kurang maupun lebihnya saya mohon maaf. Terima kasih telah membaca, ya.
Penulis: Intifadha Al Aqsa
Penyunting: Jawda Zahi Alghani