BANTUL, SABTU (17/10/2026) “Sidiq, jadilah kader pejuang!” Kalimat itulah yang selalu terngiang-ngiang di telinga Kepala Urusan Perkaderan dan Alumni, Ust. Sidiq Oktavianto, sebagai penyemangat dalam menjalani kehidupannya. Kalimat tersebut disampaikannya dalam sambutan pada acara pembukaan Ujian Kenaikan Tingkat Tapak Suci (UKT TS) Siswa 4. Ia mendengar kalimat itu secara langsung dari ulama besar tersohor asal Minangkabau, Buya Syafi’i Ma’arif.Beliau mengingatkan bahwa kita dituntut untuk menjadi kader pejuang yang berani. Bukan berani melanggar aturan, melainkan berani menegakkan Islam dan Muhammadiyah serta berdiaspora ke berbagai daerah. “Ilmumu oke, tapi kalau tidak aktif di persyarikatan juga tidak jadi oke,” terangnya.Ada yang sedikit berbeda dalam acara pembukaan kali ini. Jika biasanya sambutan perwakilan direksi dalam setiap acara perkaderan disampaikan oleh Wakil Direktur III Bidang Kesiswaan, Ust. Dedik Fatkul Anwar, S.Pd.I., M.Pd.I., kali ini sambutan tersebut dibawakan oleh Wakil Direktur IV Bidang Kepesantrenan, Ust. Ahmad Salim, Lc., S.E.I. Beliau berpesan bahwa ilmu bela diri ibarat pisau. Semakin diasah, semakin tajam dan andal penggunaannya. Namun, ilmu tersebut juga dapat membahayakan apabila digunakan secara tidak semestinya.Peserta UKT TS kali ini merupakan kader tingkat 4 yang akan berjuang meraih sabuk kuning melati empat, yaitu atribut tingkatan Siswa Empat dalam Tapak Suci. Mereka harus mengikuti ujian ragawi dengan menampilkan hasil latihan selama satu semester di hadapan para penguji. Tentu saja, ujian ini menghadirkan tantangan sekaligus manfaat tersendiri bagi para peserta.Acara berlangsung lancar meskipun sebagian panitia penyelenggara merupakan adik tingkat dalam organisasi santri Tapak Suci Mu’allimin. Hal ini menjadi kesempatan untuk mengasah profesionalitas dan kemampuan mereka dalam menyelenggarakan kegiatan perkaderan.
Penulis: Yudha Rasyid Aulia
Penyunting: Yudha Rasyid Aulia