BerandaOpiniHari Sumpah Pemuda 2026: Antara Santri, Empati, dan Patriotisme

Hari Sumpah Pemuda 2026: Antara Santri, Empati, dan Patriotisme

Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan salah satu momentum yang unik dalam sejarah pergerakan kemerdekaan dan nasionalisme bangsa Indonesia. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, etnis, agama, dan sebagainya, bersatu bersama mengangkat ikrar nasionalisme yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Singkatnya, Sumpah Pemuda merupakan hasil dari sikap patriotisme, kegigihan, persatuan, dan empati para pemuda kita kala itu demi kebaikan bangsa.

Sikap patriotisme penting untuk menjaga persatuan dan solidaritas bangsa. Patriotisme santri tidak boleh berhenti pada upacara atau hafalan sejarah semata, tetapi juga wajib diwujudkan melalui keseimbangan antara ibadah kepada Yang Maha Esa, kesungguhan belajar, kerukunan antarindividu, dan nasionalisme. Selain itu, penting untuk tetap menaati aturan yang sudah ditetapkan oleh madrasah, dan berkontribusi bagi masyarakat sebagai kader Mu’allimin dan kader Muhammadiyah.

[random_read_more]

Sikap patriotisme, gigih, empati santri dapat dipupuk dari hal-hal kecil di lingkungan terdekat, seperti: (1) mengikuti upacara bendera dengan tertib tanpa terlambat, (2) mengantre saat mengambil makanan/membeli jajan di kantin, (3) mengikuti setiap kegiatan perkaderan dengan antusias, (4) menerapkan prinsip 3T: tertib ibadah, tertib belajar, dan tertib berorganisasi, (5) siap menolong dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar, (6) berani berpikir kritis dengan tetap mempertahankan adab dan etika, dsb.

Ki Hadjar Dewantara pernah berkata, “Apa pun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan semata-mata jalan menuju keberhasilan pribadi, melainkan juga sarana mempersiapkan generasi yang mampu mengabdi. Ilmu yang dipelajari di Mu’allimin selama ini seyogyanya dapat tumbuh menjadi semangat patriotisme, kegigihan dalam berjuang, dan empati terhadap sesama.

Santri perlu memiliki kegigihan dalam menuntut ilmu dan menghadapi kegagalan. Gagal adalah jalan untuk mencapai kesuksesan di masa mendatang. Mereka juga perlu memiliki sikap empati. Mata mereka harus melek terhadap setiap peristiwa yang terjadi, serta dapat menjadi problem solver yang mampu mengaplikasikan ilmunya bagi masyarakat yang membutuhkan. Bangsa yang berkemajuan membutuhkan peran pemuda yang bukan hanya mampu bersaing di ajang kompetisi lalu tampil sebagai juara dengan menggenggam piala emas, tetapi juga bersedia tampil sebagai garda terdepan yang mampu mengulurkan tangan dan memperjuangkan keadilan.

Penulis: Aza Kahfi, Yudha Rasyid
Penyunting: Yudha Rasyid

[disclaimer]

Ikuti KweeksNews!

109FansSuka
339PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -