BerandaOpiniHari PBB ke-81: Peran Santri Menghadapi Isu Kepercayaan Global

Hari PBB ke-81: Peran Santri Menghadapi Isu Kepercayaan Global

Delapan puluh satu tahun sudah, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan sebagai wadah untuk mendorong kerja sama internasional dan keamanan dunia. Namun, dunia modern kini mulai menghadapi ironi besar. Teknologi berkembang cepat, komunikasi makin mudah, tetapi konflik, disinformasi, ketimpangan, dan ketegangan antarnegara masih saja menghambat kerja sama itu.

Di satu sisi, beberapa negara berlomba-lomba menjadi negara adidaya; tetapi di sisi yang lain, kebanyakannya masih terkungkung dalam cengkeraman penindasan, kemiskinan, ketertinggalan, atau bahkan tata kelola pemerintahan yang bobrok, tanpa memikirkan nasib rakyatnya. Pertanyaannya: Mengapa dunia yang makin maju ini justru malah makin kesulitan membangun kepercayaan dan harapan di tengah gempuran dinamika global yang terus berkembang?

[random_read_more]

Kepercayaan tidak tumbuh dari sekadar pernyataan retoris yang digaungkan di mimbar-mimbar, melainkan dari tindakan nyata. Komitmen, konsistensi, transparansi, dan kebertanggungjawaban adalah contoh konkret dari tindakan tersebut. Hari ini, kita masih mempertanyakan peran PBB beserta negara-negara dunia untuk menciptakan perdamaian dan kerja sama global yang sesuai prinsip kosmopolitanisme. Kosmopolitanisme menyatakan bahwa seluruh umat manusia adalah bagian dari satu komunitas tunggal yang sama, sehingga mendorong mereka untuk dapat saling melengkapi dan mengayomi satu sama lain.

Relevansi Isi Kepercayaan Ini bagi Santri Mu’allimin

Tarik persoalan global ke lingkungan madrasah kita tercinta. Santri dapat membangun kepercayaan melalui kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan, sebagai nilai yang seharusnya sudah menjadi tradisi santri Mu’allimin. Sementara itu, kemampuan berpikir kritis, melek literasi digital, dan berdialog juga dibutuhkan sebagai bekal menghadapi dinamika global yang makin kencang. Madrasah juga berperan krusial dalam melahirkan, mendidik, dan memfasilitasi kader-kader yang siap beradaptasi dengan dinamika global sebagai kader Muhammadiyah. Pendidikan kader harus mampu menghasilkan pemimpin yang tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga berintegritas.

Akhirulkalam, perubahan dunia bukan hanya tanggung jawab para pemimpin negara. Santri juga memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki lingkungan kecilnya dan mempersiapkan diri menjadi kader yang mampu beradaptasi dengan akselerasi dan transformasi dinamika global modern. Dunia masa depan membutuhkan orang yang bukan hanya pintar membaca perubahan, melainkan juga dapat dipercaya ketika memimpin perubahan.

Penulis: Aza Kahfi Najiy, Yudha Rasyid Aulia

Penyunting: Yudha Rasyid Aulia

[disclaimer]

Ikuti KweeksNews!

108FansSuka
339PengikutIkuti

Kiriman Terbaru

- Iklan -